RSS

Riwayah dan Dirayah dalam Tafsir

23 Mar

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji metode penafsiran al-Syaukâny dalam kitab tafsirnya, Fathul Qadîr; al-Jâmi’ bayna Fannay ar-Riwâyah wa al-Dirâyah Min ‘Ilm al-Tafsîr. Fokus perhatiannya adalah bagaimana al-Syaukâny menggunakan metode riwâyah dan dirâyah, serta bagaimana dia melakukan konvergensi antara keduanya.

Al-Syaukâny memberikan posisi yang tinggi kepada riwayat, terutama yang berasal dari Rasulullah saw., dalam penafsiran al-Qur`an. Untuk menerima atau menolak sebuah riwayat, al-Syaukâny bersikap sangat selektif. Tetapi sikap selektif dalam menerima riwayat-riwayat dalam tafsir itu tidak membuatnya sepenuhnya bebas dari kritik para ulama.

Sedangkan metode dirâyah terkait sangat erat dengan persoalan-persoalan bahasa. Dalam penafsiran terhadap setiap ayat al-Qur`an, al-Syaukâny selalu menjelaskan makna-makna leksikal dari lafaz-lafaz yang terkandung dalam ayat tersebut. Kaitan antara dirâyah dan persoalan-persoalan bahasa juga terlihat dalam sikap al-Syaukâny yang relatif tekstual dalam melakukan tafsir. Aktivitas rasional dalam tafsir (tafsir bi al-ra`y) dibatasi oleh orientasi pemaknaan yang bersifat tekstual itu, dalam arti bahwa pemaknaan apa pun tidak boleh melampaui kemungkinan-kemungkinan tekstual dan linguistik dari lafaz ayat yang bersangkutan. Di sisi lain, al-Syaukâny juga menjadikan teks al-Qur`an sebagai penilai bagi riwayat-riwayat yang berasal dari sahabat atau tâbi’în, serta pendapat para mufassir lain.

Konvergensi yang dimaksud oleh al-Syaukâny adalah penggunaan riwâyah dan dirâyah secara sama-sama ekstensif. Dalam penafsiran setiap ayat al-Qur`an, al-Syaukâny selalu mengemukakan uraian-uraian leksikal dan linguistik, diikuti kemudian oleh pencantuman riwayat-riwayat yang relevan. Dipandang dari perspektif ini, metode konvergensi al-Syaukâny bukanlah sesuatu yang baru. Banyak kitab-kitab tafsir sebelum al-Syaukâny yang ditulis berdasarkan konvergensi tersebut. Dari sudut pandang yang lebih luas, hal itu menunjukkan bahwa riwâyah dan dirâyah bukan lagi kriteria yang memadai untuk melakukan pemetaan dan tipologi karya-karya tafsir.


ABSTRACT

This study deals with the method of Quranic interpretation proposed by al-Syaukâny in his work, Fathul Qadîr; al-Jâmi’ bayna Fannay ar-Riwâyah wa al-Dirâyah Min ‘Ilm al-Tafsîr. Its main focus is how al-Syaukâny uses the method of riwâyah and dirâyah, and how he makes both methods converge one another.

Al-Syaukâny attributes a high esteem to the riwâyahs, especially the Quranic interpretations proposed by the Prophet (p.b.u.h). As a mufassir al-Syaukâny is very selective, accepting only the riwâyahs validated by muhadditsîn. But it does not make his work accepted without any criticism.

This study also proves the close relation between al-Syaukâny’s method of dirâyah and linguistic explanations. He gives profuse lexical explanation of Quranic words almost in every verse. At the same time, al-Syaukâny also believes that any interpretation of Quran is limited by the textual and linguistic possibilities of the Quranic verse itself. In doing so, al-Syaukâny put the text as the standard by which he judge several riwâyahs, especially which come from the Companions and the Successors.

Al-Syaukâny uses riwâyah and dirâyah extensively. In his commentary of a verse of Quran, he always gives lexical explanations followed by several relevant riwâyahs. It is not original in the sense that it has been done by many mufassirs before. From the wider perspective, it proves that riwâyah and dirâyah is not anymore a sufficient criterion for mapping and typifying the tafsir literatures.


تجريد

يعتني هذا البحث بدراسة منهج تفسير القرآن للشوكاني في كتابه فتح القدير الجامع بين فني الرواية والدراية من علم التفسير، خصوصا فيما يتعلق باستعمال الرواية والدراية وطريقة الجمع بينهما.

يرى الشوكاني أن التفسير بالرواية، ولاسيما التفسير بأحاديث الرسول صلى الله عليه وسلم، هو من أحسن طرق لتفسير القرآن. وكان محتاطا في قبول أي رواية، لا يورد إلا ما صح عنده منها. ولكن بعض العلماء المتأخرين يرون أن تفسيره لا يخلو من عدة روايات ضعيفة.

والدراية عند الشوكاني تتعلق كل التعلق بالمسائل اللغوية. ولذلك نرى أنه يفسر الآيات القرآنية لغويا قبل عرضه للروايات المختلفة. فلا يصح عنده أي تفسير يأباه لفظ الآية. بل يعتقد الشوكاني أن من شروط قبول رواية في التفسير، خصوصا في تفاسير الصحابة والتابعين ومن بعدهم، هو كونها موافقة للفظ الآية.

وما يقوله الشوكاني بالجمع بين فني الرواية والدراية إنما يكون باستخدامهما معا في التفسير. وليس هذا بجديد. لقد فعل ذلك كثير من المفسرين قبله. بل إنه ليس من المبالغة ما إذا قلنا إن كل كتاب في التفسير يجمع بين هذين المنهجين. فمن هذه الوجهة، نرى أن الرواية والدراية ليستا مقياسين كافيين في تحديد منهج التفسير وتنويع كتبه.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Maret 2009 in Tafsir

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: