RSS

Tabiat Buruk Manusia Menurut Al Qur’an dan As-Sunnah

29 Apr

Sudah menjadi tabiatnya, manusia lebih sering menuntut daripada menunaikan apa yang menjadi kewajibannya. Bahkan jika hak mereka telah terpenuhi sekalipun, tak tergambar rasa syukur sedikitpun pada sebagian mereka.

Manusia dan Asal Kejadiannya
Tidak ada yang memungkiri bahwa manusia berasal dari setetes air yang hina, jijik, dan kotor. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji dengan penciptaan dari air yang kotor ini, apakah manusia itu akan mau ingat asal muasalnya lalu merenunginya, ataukah dia lupa lalu tertipu dengan dirinya sendiri? (Tafsir As-Sa’di hal. 833)
Juga agar manusia sadar dan tidak menyombongkan diri di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (An-Nahl: 4)
“Dan apakah manusia tidak memerhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani) maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (Yasin: 77)
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari t (no. 3208 dan 6594) serta Muslim t (no. 2643) dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu:
“Setiap orang dari kalian dihimpun penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari menjadi mani, kemudian menjadi darah seperti itu juga, dan kemudian menjadi daging seperti itu juga.”

Manusia dan Tabiatnya
Di dalam Al-Qur`an Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan tabiat buruk manusia agar mereka berusaha keluar dari tabiat tersebut lalu memperbaiki diri. Berusaha menjadi orang yang selalu berada dalam bimbingan ilmu Islam. Hal ini tidak bertentangan dengan keterangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa mereka diciptakan di atas fitrah.
Di antara tabiat-tabiat tersebut adalah:
a. Berkeluh kesah, kikir, dan rakus.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir,  kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (Al-Ma’arij: 19-22)
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (Fushshilat: 51)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Dan jika anak Adam memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga dan tidak ada yang menuntaskan keinginannya kecuali tanah.”1
b. Selalu menzalimi dirinya lagi jahil
“Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala).” (Ibrahim: 34)
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-‘Alaq: 6-7)

c. Banyak ingkar
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya.” (Al-‘Adiyat: 6)

d. Tergesa-gesa
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (Al-Anbiya`: 37)
e. Tidak berterima kasih
“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Rabbku telah menghinakanku’.” (Al-Fajr: 15-16)

Manusia Menuntut Hak
Dengan kejelekan tabiatnya, akan bisa dibayangkan apa yang akan diperbuat manusia saat menuntut kemerdekaan dan semua hak tanpa memerhatikan kewajiban dan hak orang lain. Dia mengharapkan haknya dipenuhi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun dia justru bermaksiat kepada-Nya. Dia mengharapkan kecintaan dari semua pihak, tetapi dia sendiri menzalimi orang lain, dan begitu seterusnya. Jika setiap manusia tidak berusaha meluruskan sifat-sifat dan tabiatnya niscaya ia akan terus berada dalam kerusakan. Sehingga jika akhirnya manusia harus merasakan akibatnya, janganlah sekali-kali mengambinghitamkan orang lain.
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (An-Nisa`: 79)
“Maka barangsiapa yang menemukan balasannya adalah kebaikan, hendaklah dia memuji Allah. Barangsiapa yang menjumpai balasannya adalah selain itu (kejelekan) maka janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.”2

Manusia Diciptakan untuk Menuntut Hak?
Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk sebuah tujuan yang agung dan besar, mulia dan tinggi. Karena tujuan inilah Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit dan bumi, surga dan neraka, menentukan adanya hari hisab, ganjaran kebaikan dan timbangan amal. Tujuan yang mulia ini telah disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam kitab-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Karena tujuan inilah Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mempersiapkan ganjaran yang besar atas jerih payahnya dalam mengemban tugas di dunia ini. Beribadah merupakan kewajiban yang besar di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekaligus merupakan hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang paling besar. Jika manusia menuntut hak-haknya, maka janganlah ia menutup mata dari hak Penciptanya. Manusia wajib mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari hak selain-Nya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhuyallahu anhu:
“Hai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau berkata: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.”3
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (Al-Isra`: 23)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”  (An-Nisa`: 36)
“Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia’.” (Al-An’am: 151)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mengutus Para Nabi untuk Menyampaikan Hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus para nabi dan rasul dengan satu misi, memberitahu segenap hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan besarnya hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta jangan sekali-kali mereka menghancurkan dan menyia-nyiakannya.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)
Jenis hak inilah yang ditentang oleh kebanyakan orang. Oleh karena inilah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku maka sembahlah Aku olehmu sekalian’.” (Al-Anbiya`: 25)
Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa hujjah-Nya telah tegak di hadapan seluruh umat. Tiada satupun dari umat terdahulu ataupun belakangan melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus kepada mereka seorang rasul, yang semuanya berada di atas satu dakwah dan satu agama, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tiada sekutu bagi-Nya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 393)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata dalam Kitab At-Tauhid: “Bahwa agama para nabi adalah satu.”

Manusia Memiliki Hak Atas Pencipta-Nya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mempersiapkan berbagai hak bagi hamba-hamba-Nya yang melaksanakan tugas dalam memenuhi hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun hak ini –sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t–: “Orang yang taat berhak mendapatkan ganjaran adalah pemberian hak yang merupakan keutamaan dan nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan sebuah bentuk timbal balik sebagaimana yang berlaku pada makhluk. Sebagian orang mengatakan tidak ada istilah pemberian hak, akan tetapi sebuah janji, dan janji-Nya adalah benar. Adapula sebagian orang yang menetapkan hak lebih dari makna yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah (seperti):
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)
Akan tetapi Ahlus Sunnah mengatakan Dialah Allah yang telah mewajibkan atas diri-Nya untuk memberikan rahmat dan hak. Tidak ada seorangpun dari makhluk-Nya yang mewajibkan-Nya.” (Fathul Majid hal. 41)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berjanji dan Dia tidak akan mengingkari janji untuk memenuhi hak-hak bagi orang yang taat kepada-Nya:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit.” (An-Nisa`: 124)
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami.” (Al-Kahfi: 88)
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-‘Ankabut: 7)

Mu’tazilah, Jabriyyah, Qadariyyah, dan Hak
Tidak ada seorangpun yang telah mencium bau As-Sunnah meragukan kesesatan mereka dalam agama dan (menganggap) mereka dari kalangan kaum muslimin. Mereka tersesat karena sesatnya jalan mereka dalam beragama. Pada edisi-edisi yang telah lewat telah dibahas dengan tuntas –alhamdulillah– siapakah Mu’tazilah, Qadariyyah, dan Jabriyyah berikut paham-paham mereka.
Dalam hal hak, Qadariyyah dan Mu’tazilah mengatakan: “Wajib bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menunaikan hak bagi makhluk-Nya, karena hamba itu sendiri yang memilih ketaatan kepada-Nya tanpa Dia menjadikan mereka taat.” Artinya, hamba-hamba ini wajib untuk mendapatkan balasan sekalipun Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mewajibkan atas diri-Nya.
Jabriyyah menyatakan: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mewajibkan atas diri-Nya (memberikan) rahmat, karena Allah-lah satu-satunya yang berkuasa dan berbuat dalam kekuasaan-Nya. Maka tidak ada hak bagi seorang hamba atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun ini disebutkan hanya dalam bahasa kiasan.”
Adapun ahlul haq dari kalangan Ahlus Sunnah mengatakan: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan akan membalas mereka, tanpa ada seorangpun dari makhluk-Nya yang mewajibkan atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan Dialah yang menentukan rahmat bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dialah yang mewajibkan atas diri-Nya sendiri.” (Fathul Majid hal. 41)

Manusia Menuntut Hak, Melanggar Hak
Hak yang ditanggung manusia teramat banyak. Semua hak ini terhimpun dalam wujud ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Artinya, jika manusia itu menaati segala aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perintah-Nya mereka kerjakan dan larangan-larangan-Nya mereka tinggalkan, niscaya dia telah melepaskan dirinya dari kewajiban. Dia telah berbuat sesuatu yang besar untuk mendapatkan haknya.

1. Manusia melanggar hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Yakni dengan melakukan berbagai bentuk kesyirikan dalam beribadah kepada-Nya, kekufuran dengan berbagai macam coraknya, kemaksiatan dengan berbagai macam warnanya. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no.18), Ibnu Majah (no. 3034) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 7339) dan Al-Irwa` (7/89-91) dengan syahid-syahid (pendukung-pendukung)nya, serta dihasankan dalam Shahih Al-Adabul Mufrad (no. 14), dari sahabat Abud Darda` z, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Janganlah kamu menyekutukan Allah sedikitpun walaupun kamu dipotong dan dibakar.”
2. Manusia Melanggar Hak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
Yakni dengan melanggar segala bimbingannya, menentang segala perintahnya, menyelisihi sunnah-sunnahnya, serta mengambil petunjuk selain dari petunjuk beliau.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 7280) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Mereka bertanya: “Siapa yang enggan itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Barangsiapa taat kepadaku maka dialah yang mau masuk surga dan barangsiapa yang memaksiatiku maka dialah yang enggan.”

3. Manusia melanggar hak agamanya
Dengan melanggar segala aturan dan merusak kesempurnaannya. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Ma`idah: 3)

Saudaraku…
Hak apakah yang engkau tuntut, sementara hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, rasul dan agama-Nya engkau runtuhkan? Tunaikanlah kewajibanmu sebelum menuntut dan membela hakmu. Hakmu pasti terpenuhi jika engkau melaksanakan kewajiban dengan pengajaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Wallahu a’lam.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 April 2013 in Staqofah, Taushiyah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: