RSS

Adzan untuk Qiyam al-Lail

31 Mei

Kuliah Subuh al-Muhajirin
Perumahan Duta Indah Pondok Gede.
Kajian kita pada tanggal 31 05-09 sampai bahasan mengenai adzan, tatacara, kapan waktunya dan fungsinya adzan untuk apa. Berikut ini adalah hadis-hadis yang menerangkan tentang bagaimana cara adzan.
وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ, وَعَائِشَةَ قَالَا: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِنَّ بِلَالاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ, فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ اِبْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ”, وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لَا يُنَادِي, حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ, أَصْبَحْتَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah mereka berkata:”Rasulullah bersabda:”sesungguhnya Bilal dia mengumandangkan adzan pada waktu malam, maka makan dan minumlah kalian sampai sahabat Ibnu Ummi Maktum memanggil kalian, dan ia adalah seorang laki-laki yang buta yang tidak memanggil sampai dikatakan kepadanya Asbahta-asbahta (enkau telah berpagi-pagi). HR Mutafaq ‘Alaihi.
Kalimat hadis yang terakhir adalaha idraj yang artinya bahwa perkataaan itu bukan dari Nabi melainkan dari perawi hadis tersebut yakni ‘Aisah atau Ibnu ‘Umar. Sahabat Ummi Ibnu Maktum adalah laki-laki yang buta mata sehingga dia tidak bisa melihat beliu bernama Umar.
Sarh Hadist
Pelajaran pertama, Dalam hadis ini menjelaskan disyariatkannya adzan sebelum fajar, dan disyariatkannya adzan ini bukan untuk memberitahukan waktu sholat melainkan untuk melakukan qiyam al-lail (sholat tahajud dan witir) hal ini di syariatkan dan di sunnnahkan karena ada riwayat yang shahih Rasulullah bersabda yang artinya “dan bangunlah orang yang tertidur, dan dan kembalilah dari sholat kalian”. Artinya bahwa apabila dikumandangkan adzan sebelum fajar itu kita disuruh untuk melakukan sholat malam abis itu tidur kembali demikian kata imam al-Kahlani dalam subul al-Salam.
Pelajaran kedua dari hadis ini adalah di perintahkanya orang yang hendak berpuasa untuk makan dan minum sampai Ummi Maktum melakukan panggilan.
Ketiga, bahwa disyariatkannya dalam satu masjid itu untuk mengambil atau memiliki dua muadzin yang berbeda seperti yang disebutkan dengan jelas dalam hadia diatas. Ada ulama yang berkata bahwa ketika dua muazdin itu melakukan adzan bersamaan dan yang pertama melakukan pekerjaan ini adalah Bani Umaiyyah. Ada juga ulama yang menyatakan tidak dimakruhkan artinya boleh-boleh saja dua muadzin itu adzan bersama-sama. Wallahu a’lam.
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا سَمِعْتُمْ اَلنِّدَاءَ, فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (4)
Dari Abi Said al-Khudri ra. Ia berkata: Rasulullah bersabda:”ketika kalian mendengarkan adzan maka ucapkanlah sama dengan yang diucapkan oleh muadzin. HR Mutafaq alaihi.
Al-Kahlany menjelaskan hadia ini menerangkan kepada kita bahwa disyariatkan bagi kita untuk menjawab panggilan adzan dengan jawaban yang sama dengan yang diucapkan oleh muadzin dalam kondisi dan keadaan apapun seperti sedang bersuci dan yang lainnya, sedang junub atau khaid kecuali sedang bersetubuh (jima’) kita dilarang untuk menjawab panggilan adzan tersebut. Adapaun apabila kita mendengarkannya sedang sholat maka ada banyak interpretasi yang mendekati kebenaran adalh dengan cara mengakhirkan jawabannya, ketiak sudah selesai sholat baru kita menjawabnya.
Yang wajib menjawab adzan adalah orang yang mendengarkan adzan bukan orang melihat orang adzan di menara. Sehingga bagi orang tuli tidak wajib menjawabnya.
Ulama juga berbeda pendapat tenatang wajibnya menjawab adzan, Abu Hanifah, dan ahli dhahir (tektualis,salafi) dan yang lain mereka menyatakan wajib menjawab adzan. Ulama jumhur berkata tidak wajib. Ulama jumhur beralasan dengan riwayat yang diriwayatkan imam Muslim:’Rasulullah mendengarkan adzan ketika bertakbir rasul berkata”’ala al-Fitrah”,ketika muadzin bersahadat Rasulullah berkata :”Kharajtu min an-Nar”(aku telah keluar dari api neraka) kalau menjawab adzan itu wajib maka Rasulullah akan menjawab sama dengan muadzin.
Ada perbedaan dan pandangan adalah cirri dari fiqh Islam yang paling urgen dalam masalah ini adalah bagaimana kita bisa menghargai, memahami olah karya yang dilakukan oleh para ulama. Jadi bukan fanatisme bermadhab yang dikedepankan tapi rasa saling menhargai bahwa mereka adalah ulam yang perlu kalau perlu wajib untuk dihormati dan didikuti pendapatnya. Wallahu a’lam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Mei 2009 in Kuliah subuh

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: