RSS

Wajib Berhubungan Setelah Haid

04 Jun

Qs.:Al-Baqarah:(2):222
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ(
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Sahabat Anas bin Malik ra., diceritakan bahwa orang –orang Yahudi tiada mau makan bersama-sama ataupun bercampur dengan istrinya yang sedang haid, bahkan mereka mengasingkan istri mereka dari rumah. Para sahabat mengadukan tentang hal ini kepada Nabi saw. Karena peristiwa diatas, Maka turunlah ayat tersebut :2 : 222: Bersabdalah Rasulullah saw: ”Berbuatlah apa yang pantas dilakukan dalam pergaulan suami istri, kecuali jima’. Imam Muslim, Tirmidzi
Inilah sifat dan ahklaq orang-orang Yahudi yang selalu melampaui batas dalam hal apa saja, baik dalam masalah aqidah, ibadah sampai dalam masalah yang sifatnya pribadi saja mereka selalu berlebih-lebihan (israf fi al-‘Amal) hal ini sangat dibenci dan sangat tidak disukai dalam agama islam. Oleh karenanya Nabi saw. memerintahkan kepada kita untuk tidak berlebihan dalam segala perbuatan, ucapan, dan segala aspek kehidupan. Islam mengajarkan kepada sesuatu yang sudah paripurna yakni dengan mengikuti Rasulullah saw.
Antum bayangkan saja sifat mereka yang sangat berlebihan dengan istri mereka yang sedang haid, padahal haid itu rahmat Allah swt. Yang sangat besar, tanpa haid wanita tidak akan mendapat karunia anak dari Allah swt, dan orang yang tidak haid akan sensitive dengan berbagai penyakit. Jadi menurut pandangan mereka orang Yahudi bahwa wanita itu (istri) hany harus di rawat disayangi ketika mereka sedang membutuhkan dan ada kemauannya.
Realaitas yang saat ini kita lihat, baca dan mungkin pernah kita alami adalah kasus KDRT yang semakin marak terjadi, terakhir ini yang sedang News dimata kita adalah kasusnya MANOHARA dengan pangeran Klantan Malaisya. Hal itu terjadi mungkin karena hal-hal sepele seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.
Kita harus bersyukur di Negara kita saat ini KDRT sudah memiliki paying hokum yang permanen alias memiliki undang-undang tersendiri, sehingga kasus dalam rumah tangga tidak bisa kita agap sebagi urusan intern keluarga
Maka dalam ayat tersebut Allah swt. menjelaskan bahwa haid itu adalah penyakit yang harus dikeluarkan dan dibuang. Tetapi bukan untuk dianiaya apalagi diasingkan rumah-rumah mereka.
Imam Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelaskan beberapa riwayat tentang hal ini:”
فقوله: { فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ } يعني [في] الفَرْج، لقوله: “اصنعوا كل شيء إلا النكاح” ؛ ولهذا ذهب كثير من العلماء أو أكثرهم إلى أنه تجوز مباشرة الحائض فيما عدا الفرج.
قال أبو داود: حدثنا موسى بن إسماعيل، حدثنا حماد، عن أيوب، عن عكرمة، عن بعض أزواج النبي صلى الله عليه وسلم أنّ النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد من الحائض شيئًا، ألقى على فرجها ثوبًا
Ada hadis yang diriwaytkan oleh imam Muslim bahwa Rasulullah bersabda”kalian lakukan apa saja kecuali Nikah (jima’). Kata “فَاعْتَزِلُوا” artinya jauhilah adalah jauhilah bersetubuh ketika haid jadi bukan diasingkan.
Selanjutnya ibnu Kasir juga memberikan keterangan bahwa para ulama berpendapat diperbolehkan berhubungan dalam arti apa saja misalnya ciuman dll dengan istri yang sedang haid kecuali farjinya saja.
Imam Abu Dawud berkata yang datang dari Ikrimah dari sebagian istri Nabi sesungguhnya Nabi saw. Ketika menginginkan dari istrinya yang sedang haid, beliu meletakkan kain diatas farjinya.
Banyak sekali riwayat yang bersumber dari istri Rasulullah saw. Bahwa kita boleh melakukan apa saja ketika sedang haid kecuali jima’. Hal ini mengajarkan kepada kita ummat islam bahwa islam dengan keluhurannya dan rahmat bagi semesta ingin mengankat drajat kaum wanita dari tidak dihargai menjadi lebih mulia dan terhormat dimata manusia dan lebih-lebih dimata Allah swt. Cuman sayang akhir-akhir ini ada kaum muslimat yang mengatasnakan muslimat tokoh pembaharu wanita yang kelewatan batas dalam hal-hal tertantu yang tidak mungkin disamakan antara kaum laki-laki dan perempuan.
{ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ } “dan jangnalah kalian mendekati mereka sampai mereka suci dari khaid”
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini ada ulama yang mengatakan boleh jima’ kalu darah haidnya sudah berhenti seperti Mujahid, Ikriman dan Thawus. dan ada juga ulama yang mensyratkan boleh jima’ kalau sudah mendi seperti Ibnu Hzam dan yang lain.
وقوله: { فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ } “Maka jiga meraka telah suci dari haid maka kalian datangilah mereka sebagaiman Allah memerintahkan kepada kalian”.

Ayat ini oleh para ulam juga dapat perhatian yang spesifik seperti Ibnu Hazm berkata bahwa wajib bersetubuh setiap selesai haid karena kata-kata “fa’tuhunna” adalah menunjukkan kewajiban. Ada juga ulama yang menyatkan perintah itu untuk sesuatu yang Mubah artinya tidak ada kewajiban harus jima’ setiap kali selesai haid.
Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelsakan telah terjadi ijma’ consensus dari para ulama bahwa wanita yang selesai dari haid tidak halal bagi suaminya sampai mereka mandi atau tayamum, kecuali Yahya bin Bakr dari kalangan Malikiyyah dan salah satu guru dari Imam Bukhari yang membolehkan jima tanpa harus mandai atau tayamum terlebih dahulu.
Berbeda dengan Abu Hanifah ia berkata beleh jima’ kalau darha haidnya berhenti ketika me;lebiha batas umunya orang haid. Menurutnya batas normalnya orang haid adalah sepuluh hari.
Potongan ayat yang terakhir mengajarkan kepada kita bahwa diperintahkan kepada kita kalau bersetubuh melalu farji bukan yang lain. Karena kalau kita melakukan hal yang diluar perintah Allah maka laknat, siksaan akan datang kepada kita baik cepat atau lambat. Takutlah kepada Allah.
Allah suka orang yang selalu bertobat walaupun dosa dan kesalahan itu terus berulang-ulang, Allah akan selalu menerima taubat hambanya yang mau mengingat kapada-Nya ketika ia melakukan pelanggaran dan Allah juga selalu mencintai orang yang selalu suci dari kotoran, najis dan kotoran dosa. Wallahu alam


  1.  
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juni 2009 in Tafsir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s