RSS

Mencari Syafa’at Rasulullah saw.

16 Jun

KULIAH DHUHA
MASJID JAMI’ AL-AZHAR JAKAPERMAI
“HAKIKAT SYAFA’AT”
M. Maryono,SH.I.,MA
Semua orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya pasti akan masuk Surga, bahkan dengan iman seberat atom sekalipun. Hal tersebut merupakan janji Allah yang tidak diingkari. Namun, untuk dapat masuk surga dengan selamat tanpa singgah di neraka, orang tersebut harus mampu menyempurnakan imannya di dunia. Iman yang tidak sempurna berarti ada kotoran di dalamnya. Kotoran tersebut boleh jadi berupa dosa yang belum diampuni atau tapak tilas perbuatan maksiat yang membentuk menjadi karakter yang tidak terpuji, seperti hubbud dunya, iri, hasud, nifak dll. Apabila karakter-karakter tersebut belum mampu disucikan di dunia sehingga terbawa sampai mati, berarti orang tersebut mati dalam keadaan iman tidak sempurna. Untuk menyempurnakan imannya, berarti terlebih dahulu mereka harus dibakar dengan api neraka. Jadi orang beriman dimasukkan Neraka itu bukan untuk disiksa, tetapi disucikan imannya supaya pantas menjadi penduduk Surga.
Pada kesempatan ini kita akan membicarakan apa sebenarnya syafa’at itu? Siapa saja yang berhak mendapatkannya? Ada berapa syafa’at dan berapa syarat yang harus dipenuhi sampai syafa’at itu kita dapatkan. Ada apa tidak syafa’at itu pada hari qiyamat?
Ta’rif (pengertian)
Berikut ini adalah ta’rif syafa’at yang diberikan oleh beberapa ulama,
Imam Ibnu Jarir al-Thabari berkata:”
أبو جعفر: و”الشفاعة” مصدر من قول الرجل:”شفع لي فلان إلى فلان شفاعة وهو طلبه إليه في قضاء حاجته. وإنما قيل للشفيع”شفيع وشافع”
Syafa’at adalah isim masdar dari ucapan seorang laki-laki :”telah menolongku seseorang kepada orang lain dengan suatu pertolongan yaitu meminta untuk memenuhi kebutuhannya.
Lebih lanjut at-Thabari berkata:” syafa’at adalah orang yang menjalankan kelakuan yang baik atau kelakuan yang buruk yang selanjutnya menjadikan “pasangannya” dengan cara menirunya dan mengikutinya. Dengan demikian maka syafa’at dari Nabi bukan hanya efektif pada hari akhirat, tapi jauh sebelumnya di dunia, yaitu jika kita ingin mendapatkan syafa’at (dalam arti pertolongan dari Nabi, maka kita harus jadi syaf’un ( pasangan) yang menirunya mengikuti sunnahnya. Pemahaman ini terbit dari arti syafa’a-yasyfi’u-syaf’an wa syafaa’atan, yang artinya memberinya pertolongan sehingga yang diberinya pertolongan mengikutinya, menirunya dan menjadikannya pasangan atau dalam bahasa sehari-hari mitra yang sejalan.
Ibnu al-Astir menjelasakan:” kata syafa’at banyak disebutkan dalam al-Qur’an dan hadis Rasulullah baik yang berhubungan dengan dunia maupun diakhirat. Yang dimaksud syafa’at adalah permintaan untuk diampuni atas perbuatan dosa dan semua kesalahan diantara mereka.
Dalam kamus, Tajul ‘Urus, “ kata asy syafi’ (الشَّفِيْـعُ) adalah orang yang mengajukan syafa’at, bentuk jama’/pluralnya adalah syufa’a’ (شُفَعَاءُ) yaitu orang yang meminta untuk kepentingan orang lain agar keinginannya terpenuhi.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa :”yang dimaksud dengan syafa’at ialah pertolongan atau dukungan, sehingga “Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, maka ia akan memperoleh bagian dari- nya (pahala) atau ikut pada dosanya. Dalam suatu hadits shahih disabdakan: “Berikanlah syafa’at, niscaya kamu akan memperoleh pahala”. HR.Ahmad
Dalam kitab Manhaju Imam Syafi’I fi Isbaat al-Aqidah dikatakan:” syafa’at adalah meminta kebaikan kepada orang lain, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’.
Melihat interpretasi yang beragam ini bahwa syafa’at tidak hanya di akhirat saja melainkan juga bisa terjadi atau ada di dunia, imam ibnu Kasir menyatakan:”
ولهذا قال بعض السلف: ما شفع أحد في أحد شفاعة في الدنيا أعظم من شفاعة موسى في هارون أن يكون نبيًّا، قال الله تعالى: { وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا } .
Oleh karenanya telah berkata sebagian ulama salaf:”tidaka ada syafa’at seseorang kepada orang lain yang lebih besar kecuali syafa’atnya Nabi Musa kepada Nabi Harun untuk menjadi seorang Nabi. Seperti yang di jelaskan Allah swt dalam firmanya. Dan adalah wujud dari perminataan Nabi Musa kepada Allah قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَى [ طه : 36
Dalam tafsir DEPAG ada keterangan bahwa Syafa’at adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa’at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa’at bagi orang-orang kafir., syafa’at yang baik Ialah: Setiap sya’faat yang ditujukan untuk melindungi hak seorang Muslim atau menghindarkannya dari sesuatu kemudharatan. syafa’at yang buruk ialah kebalikan syafa’at yang baik.
Jadi yang dimaksud dengan syafa’at disini adalah:” menggabungkan diri dengan orang lain dan memberikan pertolongan kepadanya dan menjadi pasangan baginya atau menjadi penolong dalam menjalankan kebaikan atau kejahatan, dan dengan demikian ia membantu memperkuatnya dan bersama-sama dengannya dalam hal yang menguntungkan atau merugikannya.

PEMBAGIAN SYAFA’AT RASULULLAH SAW.
2. Syafa’at yang benar.
Syafa’at yang benar ini harus memenuhi 3 syarat:
pertama, Ridho Allah swt. terhadap si perantara
kedua, Ridho Allah swt. terhadap yang mendapatkan syafa’at
Ketiga, Idzin dari Allah swt. untuk memberikan syafa’at. Dan Allah swt. tidak
akan memberikan idzin, kecuali setelah Dia meridhoi si perantara dan
yang menerima syafa’at.
Dalil atas syarat-syarat diatas ada banyak misalnya:”
Qs. Baqarah, 2:255:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
(Artinya: “Tidak ada yang bisa memberi syafaat di sisiNya kecuali
dengan idzinNya.”) (Al Baqoroh 255)
Qs.An-Najm, 53:26
  •               
26. dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).
Qs. Al-Anbiya’: 21:28
              
28. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaatmelainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.
QS. Yunus:10:3:
•                                 
3. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Syafa’at terbesar adalah syafa’at yang menjadi kekhususan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat kelak. Pada waktu itu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi perantara dari manusia
untuk memohon kepada Allah agar mereka bisa mendapatkan kenyamanan dipadang mahsyar, ketika seluruh manusia dikumpulkan untuk diadili. Sebagaimana yang kita ketahui, hari tersebut adalah hari yang sangat dahsyat. Matahari berada di atas kepala kita dalam jarak satu mil.

Keringat bercucuran deras sesuai dengan amalan masing-masing. Ada yang
keringatnya semata kaki, ada yang sepinggang, ada yang seleher bahkan
ada yang tenggelam di dalam keringatnya sendiri. Manusia menunggu di
dalam waktu yang lama dan hati yang gelisah, “Di manakah tempatku
nanti?”
Ketelanjangan tidaklah menjadi perhatian disebabkan dahsyatnya hari
tersebut. Di saat-saat yang sulit tersebut, sekelompok orang datang
kepada Nabi Nuh AS agar dia berdoa kepada Allah swt. untuk meringankan
beban mereka. Akan tetapi Beliau AS tidak sanggup. Pergilah mereka
kepada Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isya AS. Tetapi seperti halnya
Nuh, mereka pun tidak bisa memenuhi keiinginan mereka. Akhirnya
rombongan tersebut pergi kepada semulia-mulianya makhluk, Muhammad
shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam bersujud dalam waktu yang sangat panjang. Beliau juga
mengucapkan puji-pujian kepada Allah swt. dengan pujian yang tidak
pernah disebutkan sebelumnya. Akhirnya Allah swt. pun mengjinkan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafa’at kepada manusia -agar
mereka mendapatkan keringanan dari beban-beban yang menghimpit mereka
pada hari yang sangat dahsyat tersebut-. Inilah yang disebut Syafa’at
Udzhma atau syafa’at terbesar -yang hanya menjadi hak khusus bagi
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini dibawakan oleh Al
Imam Bukhari dalam kitab Shohih beliau.
Selain syafa’at terbesar ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
juga memiliki hak khusus di dua syafa’at yang lain.
Yang pertama adalah, syafa’at untuk penduduk surga agar mereka bisa masuk ke dalamnya. Ini dikarenakan ketika para penduduk surga sudah berhasil menyebarangi jembatan ash shiroth dan sampai kepada pintu surga, mereka mendapatkan pintu-pintu surga dalam keadaan tertutup. Maka mereka membutuhkan seseorang sebagai perantara mereka untuk membuka pintu-pintu tersebut. ALLAH kumpulkan mereka sampai mereka mendekati surga. Mereka berseru kepada Adam, “Wahai bapak kami, tolong minta agar pintunya dibukakan buat kami!” Akan tetapi beliau tidak sanggup sampai akhirnya para penduduk surga meminta kepada Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliaupun berdiri dan mendapatkan
idzin agar pintu-pintu tersebut dibuka. Kisah ini dibawakan oleh Imam
Muslim dalam kitab Shohih beliau.
Syafaat berikutnya yang hanya menjadi hak khusus bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat untuk pamannya Abu Thalib.
Abu Thalib semasa hidupnya selalu membantu dan membela Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang harus berpikir panjang untuk
mengusik Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan pembelaan
yang dilakukan oleh pamannya tersebut. Sayang sekali ketika menjelang
ajalnya, Abu Thalib enggan untuk mengucapkan kalimat tauhid, “Laa
ilaaha illallah”. Diapun mati dalam keadaan kafir dan berhak atas
neraka. Akan tetapi karena jasanya di dalam membela Islam, Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan hak khusus untuk memberikan
syafa’at kepada pamannya tersebut. Syafa’at tersebut berupa peringanan
adzab yang harus ditanggung oleh Abu Thalib, bukan syafa’at untuk
mengeluarkan dia dari neraka. Bentuknya hanya peringanan adzab. Dan
ini hanya menjadi hak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam saja,
juga khusus untuk satu orang saja, yaitu Abu Tholib -disebabkan
pembelaan dan pertolongan dia kepada dakwah-
Ketiga syafa’at di atas adalah syafa’at yang khusus bagi Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam saja. Selain itu ada beberapa syafa’at
yang menjadi hak umum. Tidak hanya untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam saja, tetapi juga untuk orang-orang mukmin yang lain.
Misalnya syafa’at bagi mereka yang berhak masuk neraka agar tidak jadi
dimasukkan ke dalamnya. Pemberian syafaat untuk mereka ini selain
menjadi hak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadi hak
untuk selain beliau.
Begitu juga syafa’at bagi mereka yang sudah masuk ke dalam neraka agar
mereka keluar darinya dan juga syafa’at bagi mereka yang sudah masuk
ke dalam surga agar ditinggikan kedudukannya dari semula. Mereka yang
bisa memberikan syafa’at ini bisa mereka yang mati syahid, mereka yang
wafat ketika kecilnya -dan memberi syafa’at untuk kedua orangtuanya-,
para malaikat, dan yang lainnya.
Ada diskusi yang disampaikan oleh al-Qurtuby dalam tafsirnya tentang adanya “syafa’at orang yang sudah masuk nereka”. Al-Qurtuby menyatakan bahwa madhab orang-orang yang benar adalah mereka akanmendaparkan syafa’at, akan tetapi orang-orang mu’tazilah berpandangan mereka akan akan kekal didalam neraka karena tidak ada syafa’at. Selanjutnya al-Qurtuby mengatakan:”
قلنا : إنما يطلب كل مسلم شفاعة الرسول ويرغب إلى اللَّه في أن تناله؛ لاعتقاده أنه غير سالم من الذنوب ولا قائم لله سبحانه بكل ما افترض عليه؛ بل كل واحد معترف على نفسه بالنقص فهو لذلك يخاف العقاب ويرجو النجاة؛ وقال صلى الله عليه وسلم : ” لا ينجو أحد إلا برحمة الله تعالى فقيل : ولا أنت يا رسول الله؟ فقال : ولا أنا إلا أن يتغمّدني الله برحمته ”
Imam An-Naqasy berkata bahwa RAsulullah memiliki tiga syafa’at yakni:”
قال النقاش لرسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث شفاعات : العامة ، وشفاعة في السبق إلى الجنة ، وشفاعة في أهل الكبائر
Selanjutnya Ibnu ‘Atiyah berkata bahwa Rasulullah hanya memiliki dua syafa’at saja yaitu:”
ابن عطية : والمشهور أنهما شفاعتان فقط : العامة ، وشفاعة في إخراج المذنبين من النار . وهذه الشفاعة الثانية لا يتدافعها الأنبياء بل يشفعون ويشفع العلماء
Berbeda dengan an-Naqasy dan Ibnu ‘Atiyah imam Abu al-Fadl bin Iyad beliu berpendapat bahwa Rasulullah memiliki lima syafa’at:”
شفاعات نبينا صلى الله عليه وسلم يوم القيامة خمس شفاعات : العامة . والثانية في إدخال قوم الجنة دون حساب . الثالثة في قوم من موحِّدِي أمته استوجبوا النار بذنوبهم فيشفع فيهم نبينا صلى الله عليه وسلم ، ومَن شاء الله أن يشفع ويدخلون الجنة . وهذه الشفاعة هي التي أنكرتها المبتدعة الخوارج والمعتزلة ، فمنعتها على أصولهم الفاسدة ، وهي الاستحقاق العقلي المبنيّ على التحسين والتقبيح . الرابعة فيمن دخل النار من المذنبين فيخرجون بشفاعة نبينا صلى الله عليه وسلم وغيره من الأنبياء والملائكة وإخوانهم المؤمنين .الخامسة في زيادة الدرجات في الجنة لأهلها وترفيعها ، وهذه لا تنكرها المعتزلة ولا تنكر شفاعة الحشر الأوّل .
2. Syafa’at yang Batil (manfiyyatun)
Syafa’at yang batil, yaitu syafa’at yang orang-orang musyrik
bergantung kepada berhala-berhala mereka, di mana mereka menyembah
berhala-berhala tersebut dalam keadaan menyangka bahwa berhala-berhala
tersebut adalah sebagai perantara -antara mereka dengan Allah- untuk
menyampaikan doa-doa mereka.
Dalil dari al-Qur’an tentang keyakinan mereka:
Qs: Yunus:10:18
                               
18. dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?”[678] Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).
Qs. Az-Zumar:39:3
                 •          •        
3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Qs. Al-Baqarah:2:48:
•                   
48. dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at[46] dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.
Qs. Al-Baqarah:2:254:
                      
254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at[160]. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.
Qs. Ghofir:40:18:
               
18. berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.
Qs. Al-Mudasir:49
    
48. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.
Dari sekian banyak ayat diatas imam Syafi’I berkata:” bahwa tidak ada yang bermanfat atas ketetapan pengakuan mereka tentang syafaat nabi Muhammad saw.. nanti pada hari qiyamah,
Seperti halnya seorang rakyat yang ingin menyampaikan maksudnya kepada
seorang raja. Tak mungkin ada jalan yang sulit baginya untuk dapat
langsung menyampaiklan maksudnya kepada raja kecuali melalui
perantaraan orang-orang terdekat raja yang memiliki kedudukan khusus
di sisinya. Mereka beranggapan bahwa berhala-berhala mereka, wali-wali
mereka, mempunyai kedudukan khusus di sisi Allah swt. Dengan demikian,
menyampaikan keinginan kepada Allah swt. melalui doa-doa, akan lebih cepat
sampai jika melalui perantaraan mereka.
Tentu saja analogi (perumpamaan/permisalan- ed) di atas tidak bisa
dibenarkan. Seorang raja, bagaimanapun berkuasanya dia tetap saja dia
adalah seorang manusia yang mempunyai banyak kekurangan. Dia
membutuhkan orang-orang yang dapat membantu di dalam tugasnya. Bahkan aspirasi dari rakyatnya pun tidak semuanya bisa diketahui disebabkan keterbatasannya itu. Wajar saja peran orang khusus -pada kondisi ini sangat berarti bagi mereka yang ingin menyampaikan aspirasinya.
Akan tetapi Allah swt. adalah Dzat yang Maha Sempurna. Dia
Maha Kaya lagi Maha Mengetahui. Tidak membutuhkan kepada suatu apapun
karena kekayaan dan kekuasaan-Nya. Maha Mengetahui apa yang dilakukan
oleh hamba-Nya -lahiriah atau batiniah-. Allah Maha Mendengar doa para
hamba-Nya. Allah tidak membutuhkan perantara untuk mendengarkan doa
hamban-hamba-Nya.
Terlebih yang dijadikan perantara adalah orang-orang yang sudah mati
tak berdaya apa-apa. Tidak mampu untuk menolong atau mencelakakan.
Bahkan merekalah yang lebih berhak untuk ditolong. Bahkan ketika
orang-orang musryik Quraisy melakukan demikian, hal ini dianggap
peribadatan kepada selain Allah dan termasuk bentuk kesyirikan. Demikianlah yang disampaikan Abdul Wahab al-Uqaily dalam kitabnya Manhaj Imam Syafi’I fi isbati al-Aqidah. S.291-2.

Dan diberitakan oleh Nabi s.a.w.: “bahwa beliau pada hari kiamat akan bersujud kepada Allah dan menghaturkan segala pepujian kepadaNya, beliau tidak langsung memberi syafaat lebih dahulu, setelah itu baru dikatakan kepada beliau: “Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya ucapanmu pasti akan didengar, dan mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan, dan berilah syafa”at niscaya syafa”atmu akan diterima”.) HR. Bukhori, juz.5/2402
Renungkanlah hadis diatas bahwa Rasulullah tidak bisa secara langsung memberikan syafa’at, beliu dapat emberikan syafaat setelah bersujud dan kemudian mendapat izin dari Allah swt.

Abu Hurairah r.a. bertanya kepada beliau: “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa”atmu?”, Beliau menjawab: “iaitu orang yang mengucapkan la Ilaha Illallah dengan ihlas dari dalam hatinya”. (HR. Bukhori dan Ahmad) dan dalam riwayat yang lain dikatakan, Rasulullah bersabda Barang siapa meminta kepada Allah untuk ku wasihlah maka halal baginya syafa’atku pada hari qiyamah. HR.Muslim
Syafa”at yang ditetapkan ini adalah syafaat untuk Ahlul Ikhlas Wattauhid (orang orang yang mentauhidkan Allah dengan ikhlas kerana Allah semata) dengan seizin Allah; bukan untuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lainNya.
Dan pada hakikatnya, bahwa hanya Allah lah yang melimpahkan kurniaNya kepada orang-orang yang ikhlas tersebut, dengan memberikan ampunan kepada mereka, dengan sebab doanya orang yang telah diizinkan oleh Allah untuk memperoleh syafa”at, untuk memuliakan orang tersebut dan menempatkanya di tempat yang terpuji.
Ada pertanyaan kemudian bagaimana dengan orang-orang yang saat ini meminta syafaat kepada Nabi pada saat ini? Maka jawabanya adalah :
1. Hal itu tidak boleh dilakukan karena syafaat hanya milik Allah kita tidak boleh meminta syafa’at kecuali hanya kepada Allah swt bukan yang lainya.
2. Rasulullah tidak akan memberikan syafa’atnya sekarang akan tetapi nanti pada hari qiyamah, itu dapat dilakukan oleh Rasulullah setelah beliu mendapat izin dari Allah swt.
3. Kalau yang diharapakan kita didunia adalah syafa’atu al-Udzma maka kita akan memperolehnya sesuai dengan hadis mashur.
4. Apabila yang diminta oleh kita adalah syafaat yang lain maka itu tidak akan didapatkan karena, untuk mendapatkan syafa’at itu adalah terpenuhinya syarat-syarat diatas. Hal ini sama dengan yang disampaikan Abu Hurairah diatas.
5. Ada banyak keterangan dari Rasulullah saw. Bahwa ummatnya akan masuk syurga dengan tanpa hisab dan adzab, ada juga ummatnya yang bisa memberi syafa’at kepada orang lain (mati syahid, bayi yang menunggal,HR Turmudzi),kenapa tidak mengejar hal itu atau menjadi orang-orang yang dijanjikan Rasulullah saw.
6. Rasulullah dalam banyak hadisnya menjelaskan bahwa syafa’atnya hanya untuk mereka yang meninggal dengan membawa dosa besar.(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi, ia berkata hadis ini Hasan Shahih gharib dan sanadnya shahih.
7. Wajib bagi setiap muslim untuk meminta syafa’at kepada yang memilikinya yakni Allah seraya berdoa:”Ya Allah jadikanlah kami,(aku,dan yang lainnya) orang-orang yang ahli mendapat syafaat Rasulullah. Maka doa seperti ini adalah wasyilah sariyaah yang akan bermanfaat bagi orang tersebut insya Allah. inilah Hakikatnya syafaat yang disampaikan ulama salaf shalih seperti imam Syafi’I ra.

SYARAT UNTUK MENDAPATKAN SYAFA’AT
Syafa’at yang benar ini harus memenuhi 3 syarat:
Pertama, Ridho Allah swt. terhadap si perantara
Kedua, Ridho Allah swt. terhadap yang mendapatkan syafa’at
Ketiga, Idzin dari Allah swt. untuk memberikan syafa’at. Dan Allah swt. tidak
akan memberikan idzin, kecuali setelah Dia meridhoi si perantara dan
yang menerima syafa’at.
Ketiga syarat itu dapat kita peroleh maka kita akanmendapakan syafaaat, pertolongna dari Allah, Rasulullah, malaikat dan manusia pada umumnya.
ORANG YANG AKAN MEMPEROLEH SYAFA’AT
Dalam banyak hadis yang shahih diriwayatkan, bahwa orang yang akan memperoleh syafa’at adalah sbb:
1. Orang yang berdoa setelah selesai adzan.
2. Orang yang banyak membaca shalawat kepadanya karena melakukan perintah Allah swt
3. Orang yang selalu meniti dijalan sunnah Rasulullah saw. Dan menjauhi bid’ah yang dikemukakan dan dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dalam hal ini ada banyk asar sahabat dan Tabi’in untuk melakukan sunnah dan menjauhi bid’ah, seperti yang dijelaskan oleh al-Qurtuby:”
قال سهل : لا أعلم حديثاً جاء في المبتدعة أشدّ من هذا الحديث :« حجب الله الجنة عن صاحب البدعة » قال : فاليهوديّ والنّصرانيّ أرجى منهم . قال سهل : من أراد أن يكرم دينه فلا يدخل على السلطان ، ولا يخُلَون بالنسوان ، ولا يخاصِمنّ أهل الأهواءوقال سفيان الثّوْرِي : البدعة أحبّ إلى إبليس من المعصية؛ المعصية يتاب منها ، والبدعة لا يتاب منها .
وقال ابن عباس : النظر إلى الرجل من أهل السنة يدعو إلى السنّة وينهى! عن البدعة ، عبادةٌ
قال البخاري: عن جابر بن عبد الله؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من قال حين يسمع النداء: اللهم رب هذه الدعوة التامة، والصلاة القائمة، آت محمدا الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقامًا محمودًا الذي وعدته، حَلَّت له شفاعتي يوم القيامة”.
قال أبو عيسى الترمذي: عبد الله بن كَيْسَان؛ أن عبد الله بن شداد أخبره، عن عبد الله بن مسعود؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم علي صلاة”.
قال الإمام أحمد:، عن رُوَيْفع بن ثابت الأنصاري؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من صلى على محمد وقال: اللهم، أنزله المقعد المقرب عندك يوم القيامة، وجبت له شفاعتي”.
وقد استحب أهل الكتابة أن يكرر الكاتب الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم كلما كتبه، وقد ورد في الحديث عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صلى عليّ في كتاب، لم تزل الصلاة جارية له ما دام اسمي في ذلك الكتاب”
Ibnu Kasir juga menjelaskan tentang cara membaca shalawat kepada Rasulullah bahwa sholawat tidak hanya dibaca sekali atau dua kali dalam seumur hidup kita karena banyak hadis yang memerintahkan kepada kita untuk selalu membaca shaolawat kepada Nabi saw. Misalnya riwayat berikut ini:
قلت: وهذا قول غريب، فإنه قد ورد الأمر بالصلاة عليه في أوقات كثيرة، فمنها واجب، ومنها مستحب على ما نبينه.
فمنه: بعد النداء للصلاة؛ للحديث الذي رواه الإمام أحمد:
حدثنا أبو عبد الرحمن، حدثنا حيوة، حدثنا كعب بن علقمة، أنه سمع عبد الرحمن بن جبير يقول: إنه سمع عبد الله بن عمرو بن العاص يقول: إنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إذا سمعتم مؤذنا فقولوا مثل ما يقول ثم صلوا علي؛ فإنه من صلى عَليَّ صلاة صلى الله عليه بها عشرا، ثم سلوا لي الوسيلة، فإنها منزلة في الجنة لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله، وأرجو أن أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حلت عليه الشفاعة”.وأخرجه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي، من حديث كعب بن علقمة

أثر آخر، عن ابن طاوس، عن أبيه، سمعت ابن عباس يقول: اللهم تقبل شفاعة محمد الكبرى، وارفع درجته العليا، وأعطه سُؤْلَه في الآخرة والأولى، كما آتيت إبراهيم وموسى، عليهما السلام. إسناد جَيّد قوي صحيح

ومن ذلك: عند دخول المسجد والخروج منه: للحديث الذي رواه الإمام أحمد : عن أمه فاطمة بنت الحسين، عن جدته [فاطمة] بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل المسجد صلى على محمد وسلم وقال: “اللهم اغفر لي ذنوبي، وافتح لي أبواب رحمتك”. وإذا خرج صلى على محمد وسلم، ثم قال: “اللهم اغفر لي ذنوبي، وافتح لي أبواب فضلك”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2009 in Kuliah Bulanan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: