RSS

Mandi Bersama Dengan istri

06 Des

Memandikan Jenazah
1. Orang yang Mendampingi lemah lembut
عن عائشة قالت‏:‏ ‏”‏قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ من غسل ميتًا فأدى فيه الأمانة ولم يفش عليه ما يكون منه عند ذلك خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه وقال‏:‏ ليله أقربكم إن كان يعلم فإن لم يكن يعلم فمن ترون عنده حظًا من ورع وأمانة‏”‏‏.‏ رواه أحمد‏.‏
Dari Aisyah ia berkata :Rasulullah bersabdabarang siapa memandikan maiyyit kemudian ia menunaikan amanat padanya, dan tidak menyiar-nyiarkan (cacat) yang ada pada waktu itu,maka keluarlah dosa-dosanyasebagaimana ia baru dilahirkan ibunya dan ia bersabda:”hendaklah yang mendampingi itu keluarga yang lebih dekat ketika diketahui, jika tidak diketahui maka orang yang kamu pandang wira’I dan dapat dipercaya. HR. Ahmad
– وعن عائشة‏:‏ ‏”‏أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ إن كسر عظم الميت مثل كسر عظمه حيًا‏”‏‏.‏ رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه‏.‏
Darinya juga (‘Aisyah) bahwa rasulullah bersabda sesungguhnya mematahkan tulang maiyit itu sama dengan mematahkannya pada waktu hidup. HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.
– وعن ابن عمر‏:‏ ‏”‏أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال‏:‏ من ستر مسلمًا ستره اللَّه يوم القيامة‏”‏‏.‏ متفق عليه‏.‏
Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:”barang siapa menutup cacat seorang muslim maka ia akan ditutupi oleh Allah kelak pada hari kiamat. HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad
Ada riwayat yang menyatakan tentang yang memandikan adam adalah para malaikat:
– عن أُبيِّ بن كعب‏:‏ ‏”‏أن آدم عليه السلام قبضته الملائكة وغسلوه وكفنوه وحنطوه وحفروا له وألحدوا وصلوا عليه ثم دخلوا قبره فوضعوه في قبره ووضعوا عليه اللبن ثم خرجوا من القبر ثم حثوا عليه التراب ثم قالوا يا بني آدم هذه سنتكم‏”‏‏.‏ رواه عبد اللَّه بن أحمد في المسند‏.‏
Hadis-hadis diatas mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kita beraklak karimah walaupaun kepada jenazah. Misalnya yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa siapa saja yang bisa “menunaikan amanahnya”, tidak memberitakan aib jenazah adalah akhlak yang sangat terpuji.
Kalau kita diperintahkan untuk menunaikan amanah kepada jenazah artinya adalah memandikan dengan ihlas tidak memandang itu jenazah siapa, kaya apa miskin, tapi ia kerjakan dengan baik, bagus dan benar. Disamping itu Rasulullah juga memerintahkan kepada kita untuk menutupi aib jenazah. Perintah ini bukan hanya kepada jenazah tetapi berlaku kepada siapapun baik ia masih hidup apa sudah meninggal.
Hadis diatas juga memerintahkan kepada kita bahwa yang berhak memandikan jenazah adalah orang yang paling dekat dengan jenazah, anak, istri suami dan dll. Kalau itu tidak diketemukan maka kita baru boleh pakai jasa orang lain misalnya Yayasan Kamboja, menggunakan jasa itu masih harus ada catatannya minimal ada dua hal yang secara axplisit dinyatakan dalam hadis riwayat oleh Ahmad. Dua hal tersebut adalah pertama Wirai, wirai adalah orang yang tidak tama’ dengan harta serta keindahan-keindahannya. Kedua amanah (dapat dipercaya artinya baik, paham betul fiqh memandikan jenazah.
Disamping hal-hal diatas hadis-hadis tersebut juga mewajibkan kepada kita untuk berlaku lemah lembut terhadap maiyit ketika memandikan, mengkafankan, dan menguburkannnya.
Yang terahkir kita di haruskan untuk menutupi aib cacat jenazah. Karena semua hal diatas, memandikan, lemah lembut, dan menutup aib adalah pelajaran bagi kita. Bahwa perpuatan, perkataan dan apapun yang dilakukan oleh kita harusnya yang jadi tolak ukur adalah diri kita sendiri. Ibnu kasir dalam tafsirnya ketika menafsirkan surah 58:11 beliu nerkata “al-Jazau min jinsil ‘amali” balasan itu akan datang sesuai dengan perbuatannya. Artinya kalau kita suka menutupi aib orang yang meninggal maka kelak ketika kita meninggal aib kita juga akan ditutupi secara otomatic. Hal ini ditegaskan dalam surah 4:111.
2. Suami memandikan istri dan sebaliknya
عن عائشة قالت‏:‏ ‏”‏رجع إليَّ رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم من جنازة بالبقيع وأنا أجد صداعًا في رأسي وأقول وارأساه فقال‏:‏ بل أنا وارأساه ما ضرك لو مت قبلي فغسلتك وكفنتك ثم صليت عليك ودفنتك‏”‏‏.‏ رواه أحمد وابن ماجه‏.‏
Dari ‘Aisyah ia berkata: Rasulullah kembali kepadaku setelah mengahantarkan jenazah dari baqi’ sedang aku merasa sakit kepala lalu aku berkata: “aduh sakitnya kepalaku, lalu belui bersabda:”bahkan aku juga merasa sakit kepalaku tidak salahnya kalau engkau meninggal lebih dahulu maka aku akan memandikanmu, mengkafani, kemudian aku yang akan mensholati dan menguburmu. HR. Ahmad dan Ibnu Majah
– وعن عائشة أنها كانت تقول‏:‏ ‏”‏لو استقبلت من الأمر ما استدبرت ما غسل رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم إلا نساؤه‏”‏‏.‏ رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه‏.‏
Dan darinya (‘Aisyah) bahwa ia pernah berkata: seandainya aku menjumpai perkara ini, tidak ketinggalan niscaya tidak ada yang akan memandikan rasulullah melainkan istri-istrinya.HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.
وقد ذكرنا أن الصديق أوصى أسماء زوجته أن تغسله فغسلته‏.‏
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Abu Bakar as-Siddiq telah berwasiat kepada Asma’ isterinya, agar kelak ia yang memandikannya, kemudian istrinya memandikannya.
Dalam hal ini, para ulama sepakat bolehnya wanita memandikan jenazah suaminya. Tapi mereka berbeda pendapat tentang bolehnya suami memandikan jenazah istrinya. Ada dua pendapat mengenai hal ini, yaitu :
1. Jumhur ulama membolehkannya.
2. Abu Hanifah berpendapat: lelaki tidak boleh memandikan jenazah istrinya.
Sebab perbedaan pendapat :
Penyerupaan kematian dengan talak. Bagi yang menyamakan kematian dengan talak mengatakan: seorang lelaki atau suami, tidak boleh memandang istrinya yang telah meninggal dunia. Sedangkan bagi kalangan ulama yang membedakan antara kematian dengan talak menyatakan bahwa yang boleh dilihat oleh suami dari istrinya saat masih hidup boleh dilihatnya saat si istri meninggal dunia. lnilah pendapat yang dikemukakan oleh jumhur.
Abu Hanifah menyamakan konteks kematian dengan talak, alasannya karena saat istri seseorang meninggal dunia, maka dia diperbolehkan untuk menikahi saudara perempuan mendiang istrinya, dan hal ini kondisinya sama seperti dengan terjadinya talak atas istri. Hanya saja, qiyas ini terasa jauh, karena adanya alasan dibolehkannya seorang lelaki untuk menikahi wanita dan perempuannya sekaligus. Hak ini akan hilang bersamaan dengan kematian istrinya, karena itulah saudara perempuan dari mendiang boleh dinikahi. Kecuali, jika penyebab tidak bolehnya menikahi dua wanita bersaudara sekaligus adalah karena alasan ibadah. Dan jika memang penyebab tidak bolehnya menikahi dua wanita sekaligus adalah karena alasan ibadah, maka pendapat Abu Hanifah menjadi kuat.
Para ulama sepakat bahwa wanita yang ditalak ba’in tidak boleh dimandikan oleh mantan suaminya. Namun mereka berbeda pendapat tentang wanita yang ditalak raj’i.
Diriwayatkan dari Malik, suami boleh memandikan jenazah istrinya yang telah ditalak raj’i. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Abu Hanifah dan para sahabatnya.
Ibnu Al Qasim berpendapat bahwa suami tidak boleh memandikannya meski si istri telah ditalak raj’i. Pendapat ini sama seperti yang dikemukakan oleh Malik. Sebab menurutnya, suami boleh memandang mendiang istrinya. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Syafi’i.
Sebab perbedaan pendapat: Boleh tidaknya suami istrinya yang telah ditalak raj’i.
Berkenaan dengan hukum orang yang memandikan jenazah, para ulama berbeda pendapat. Sekelompok ulama berpendapat, orang yang memandikan jenazah wajib mandi. Kelompok lain berpendapat, dia tidak wajib mandi.
Sebab perbedaan pendapat: Adanya kontradiksi antara hadits Abu Hurairah RA dengan hadits Asma’ RA. Abu Hurairah RA meriwayatkan dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda,
“Barangsiapa memandikan jenazah, maka hendaklah dia mandi, barangsiapa yang mengusungnya maka hendaklah dia berwudhu. (HR. Abu Daud)
Sedangkan hadits Asma’ RA menyebutkan bahwa saat dia memandikan Abu Bakar RA, dia keluar dan bertanya kepada kaum Muhajirin dan Anshar yang hadir. Asma’ berkata, “Aku sedang puasa, dan hari ini sungguh sangat dingin, lantas apakah aku masih wajib untuk mandi?” Mereka menjawab, “Tidak.”
Hadits dari Asma’ RA tersebut adalah shahih. Sedangkan hadits: dari Abu Hurairah RA, menurut kebanyakan ulama —seperti dikemukakan oleh Abu Umar- adalah tidak shahih. Meski demikian, pada dasarnya hadits dari Asma’ tidak berseberangan dengan hadits dari Abu Hurairah RA. Karena orang yang mengingkari sesuatu adakalanya disebabkan karena ketidaktahuannya dengan adanya hadits dalam masalah terkait. Dan pertanyaan yang diajukan oleh Asma’ –wallahu ‘alam-. menunjukkan hal berbeda dengan yang ditunjukkan oleh hadits dari Hurairah RA pada masa generasi pertama.
Karena itulah, Imam Syafi’i -yang biasa berhati-hati dan mengacu kepada atsar- berkata, “Orang yang memandikan jenazah tidak wajib, kecuali jika hadits dari Abu Hurairah RA tersebut tsabit (diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim atau salah satu dari mereka).”
Hadis diatas menjadikan dalil bahwa perkataan nabi “aku akan memandikanmu” seorang suami boleh memandikan istri dan begitu juga sebaliknya. Bahwa Abu Bakar dan Ali keduanya memang menadikan istri-istri mereka.
Di Indonesia khusunya di BJP mungkin sunnha ini masih asing dan diangap aneh karena belum pernah terjadi dan ada contoh nyatanya. Hal ini dapat dimaklumi karena banyak hal diantaranya:
a. Karena mereka kurang memahami ajaranya.
b. Karena mereka selama hidupnya mungkin tidak pernah mandi berduaan (seperti nabi dengan Aisyah)
c. Ada mithos kalau itu tidak boleh
d. Terkadang karena factor psikologi yang menimpa kepada pasangan itu.
Untuk menyelasaikan masalah ini dan mengerjakan sunnah Rasulullah perlu ada :
 sosialisasi tentang merawat jenazah dari memandikan sampai dengan menguburkan.
 Perlu ada pemahaman yang sempurna terhadap semua anggota keluarga tentang fiqh jenazah.
 Memahami bahwa berbakti kepada orang yang paling kita cintai tidak selesai dengan meninggalkna seseorang, tetapi merawat mereka saat meninggal adalah bagian dari cinta kita kepada mereka.

3. Mati Syahid tidak dimandikan
عن جابر قال‏:‏ ‏”‏كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم يجمع بين الرجلين من قتلى أُحد في الثوب الواحد ثم يقول أيهم أكثر أخذًا للقرآن فإذا أُشير له إلى أحدهما قدمه في اللحد وأمر بدفنهم في دمائهم ولم يغسلوا ولم يصل عليهم‏”‏‏.‏ رواه البخاري والنسائي وابن ماجه والترمذي وصححه
Dari jabir ia berkata; Rasulullah pernah mengumpulkan dua orang laki-laki kurban perang uhud dalam satu kafan, kemudian ia bertanya, siapa diantara mereka yang paling banyakhafal al-Qur’an?kemudian ketika diberi tahu salah satu dari keduanya, maka ia mendahulukannya memasukkannya di dalm liang lahad, dan ia memerintahkan menguburkan dengan darah meraka dan tidak dimandikan serta tidak di sholati. HR. Bukhari, Nasa’I, Ibnu Majah,dan Tirmidzi
‏.‏ ولأحمد‏:‏ ‏”‏أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم قال في قتلى أُحد‏:‏ لا تغسلوهم فإن كل جرح أو كل دم يفوح مسكًا يوم القيامة ولم يصل عليهم‏”‏‏.‏
Dan dalam riwayat Ahmad: bahwa Nabi bersabda: tentang para kurban uhud, jangan kamu memandikannya, karena setiap luka atau setiap tetes darah akan berbahu kasturi pada hari kiamat nanti. Dan mereka tidak dishalati
Para ulama sepakat bahwa jenazah muslim yang tidak terbunuh dalam peperangan melawan orang kafir harus dimandikan. Tapi mereka berbeda pendapat tentang memandikan dan menyalatkan orang yang mati syahid dan memandikan orang musyrik. Orang yang mati syahid (yakni: yang terbunuh dalam perang melawan orang musyrik) menurut jumhur ulama tidak perlu dimandikan. berdasarkan hadits,
“Sesungguhnya Rasulullah SAW memerintahkan orang-orang yang terbunuh dalam perang Uhud untuk disemayamkan dengan pakaian mereka dan tidak dishalatkan.” (HR Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
Al Hasan dan Sa’id bin Al Musayyib berkata, “Setiap mayit muslim harus dimandikan. Sebab, setiap mayit itu junub.” Sepertinya mereka itu menilai apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap para perang Uhud karena dalam keadaan darurat (sulit untuk dimandikan). Diantara ulama yang mengemukakan pendapat serupa adalah. ‘Ubaidillah bin Al Hasan Al `Ambari.
Abu Umar ketika ditanya tentang riwayat Ibnu Al Mundzir memandikan orang yang mati syahid, dia menjawab, “Umar pernah memandikan, mengafani, memberi wewangian dan menyalatinya, padahal jenazah tersebut adalah syahid. Semoga Allah merahmatinya.”
Ulama yang sepakat bahwa orang yang mati syahid memerangi kaum musyrik tidak perlu dimandikan berbeda tentang orang yang mati syahid karena memerangi pencuri atau selain orang musyrik. Al Auza’i, Ahmad dan jamaah ulama berpendapat bahwa hukumnya sama seperti orang yang dibunuh oleh kaum musyrik. Sedangkan Malik dan Syafi’i berpendapat agar jenazah tersebut dimandikan.
Sebab perbedaan pendapat: Apakah yang mewajibkan tidak dimandikannya jenazah hanya karena syahadah (mati syahid) atau syahadah melalui tangan orang kafir.
Bagi ulama yang berpendapat bahwa sebabnya adalah syahadah secara mutlak menyatakan bahwa semua orang yang disebutkan oleh Nabi SAW sebagai syahid, maka harus dimandikan tanpa peduli siapa pun yang membunuhnya. Sedangkan bagi ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah syahadah karena dibunuh orang kafir menyatakan hanya para syuhada inilah yang tidak perlu dimandikan.
Berkenaan dengan orang muslim yang memandikan orang kafir, Malik berpendapat bahwa orang muslim tidak boleh memandikan dan menguburkan ayahnya yang kafir kecuali jika dikhawatirkan jenazahnya akan terlantar. Syafi’i berpendapat, orang muslim boleh memandikan dan mengubur kerabatnya yang musyrik. Pendapat serupa juga dikemukakan leh Abu Tsaur, Abu Hanifah dan para sahabatnya.
Abu Bakar bin Al Mundzir berpendapat: memandikan orang musyrik tidak ada Sunnah yang mengajarkannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW memerintahkan agar pamannya dimandikan saat meninggal dunia.
Sebab perbedaan pendapat: Apakah memandikan jenazah termasuk ibadah ataukah hanya termasuk bagian dari kebersihan. Jika termasuk ibadah, maka memandikan orang kafir tidak boleh. Tetapi jika hanya untuk tujuan kebersihan, maka boleh memandikan jenazah orang kafir.
Walllhu a’lam bi alshowab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Desember 2010 in Kuliah subuh

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: