RSS

Hukum Mengangkat Tangan ketika khutbah Jum’ah

20 Apr

Apakah Berdo’a dalam Khutbah itu Sunnah apa Rukun
Sebelum kita mendiskusikan masalah ini perlu dipahami syarat sahnya ibadah adalah ketika seseorang harus membedakan mana yang sunnah dan mana yang rukun. Rukun sama dengan fardhu yang wajib dilakukan dalam semua ibadah, sementara sunnah adalah adalah sesuatu yang kalu ditinggalkan pekerjaan itu tetap syah.
Para ulama berbeda pendapat tentang hal berdoa dalam khutbah ini apakah rukun atau sunnah saja. Berikut ini pendapat mereka:
1. Mereka berpendapat bahwa berdoa ketika khutbah adalah sunnah.,
Kelompok yang pertama diwakili oleh .
بهذا قال الحنفية ، والشافعية في قول لهم وصححه بعضهم ، والحنابلة

Madhab Hanafiyah, Hanabilah dan sebagian madhab Syafi’i.
Dalil mereka adalah dari sunnah dan akal:
من السنة : ما رواه سمرة بن جندب – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : « كان يستغفر للمؤمنين والمؤمنات ، والمسلمين والمسلمات كل جمعة » (7) .
وهذا واضح الدلالة ، لكن في ثبوته كلام كما في تخريجه .
ومن المعقول : أن الدعاء للمسلمين مسنون في غير خطبة الجمعة ، ففيها أولى (8) .
2. Sementara kelompok yang kedua mereka menyatakan bahwa berdoa adalah rukun khutbah. Pendapat ibi adalah pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah. Demikian yang dituturkan oleh imam Nawawy.

القول الثاني : أنه ركن من أركان الخطبة الثانية .وهذا هو القول الصحيح عند الشافعية ، قال النووي :” وهو الصحيح المختار
Berdoa untuk kaum muslimin sudah dijelaskan oleh ulama salah dan kholaf itu cukup jadi dalail bahwa mendoakan mereka adalh rukun khutbah jum’ah
2. Hokum Mengangkat tangan ketika berdo’a waktu khutbah
Para ulama berbeda pendapat tentang mengangkat tangan ketika berdo’a waktu khutbah ada 3 pendapat yang tejadi dikalangan ulama. Berikut ini pendapat dan dalil mereka.
Pendapat yang pertama Makruh, disunnahkan ketika khutbah sholat istisqo’ pendapat ini yang di sahihkan oleh madhab Hanabilah dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, ibnu taimiyah berkata:”dimakruhkan bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a waktu khutbah.
Berikut ini dalail mereka:
ما روي عن عمارة بن رؤيبة – رضي الله عنه – « أنه رأى بشر بن مروان على المنبر رافعا يديه فقال : ( قبح الله هاتين اليدين ، لقد رأيت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ما يزيد على أن يقول بيده هكذا ، وأشار بإصبعه المسبحة
قال في نيل الأوطار : ” والحديثان المذكوران في الباب يدلان على كراهة رفع الأيدي على المنبر حال الدعاء . . . ” ، وقال ابن القيم – رحمه الله – عن الإشارة بالإصبع : ” وكان يشير بإصبعه السبابة في خطبته عند ذكر الله تعالى ودعائه.
واستدلوا على عدم الكراهة في دعاء الاستسقاء بما يلي :
ما رواه أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال : « أصابت الناس سنة على عهد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فبينما النبي – صلى الله عليه وسلم – يخطب في يوم الجمعة قام أعرابي فقال : يا رسول الله ، هلك المال وجاع العيال ، فادع الله لنا ، فرفع يديه ، وما نرى في السماء قزعة ، فوالذي نفسي بيده ما وضعها حتى ثار السحاب أمثال الجبال ، ثم لم ينزل عن منبره حتى رأيت المطر يتحادر على لحيته – صلى الله عليه وسلم – ، فمطرنا يومنا ذلك ، ومن الغد ، وبعد الغد ، والذي يليه حتى الجمعة الأخرى ، وقام ذلك الأعرابي ، أو قال : غيره ، فقال : يا رسول الله ، تهدم البناء ، وغرق المال ، فادع الله لنا ، فرفع يده فقال : اللهم حوالينا ولا علينا ، فما يشير بيده في ناحية من السحاب إلا انفرجت وصارت المدينة مثل الجوبة ، وسال الوادي قناة شهرا ، ولم يجئ أحد من ناحية إلا حدث بالجود » (1) .وهذا واضح الدلالة .

Pendapat yang kedua, mengangkat tangan adalah bid’ah, kecuali sholat istisqo’, yang disunnhakan adalah isyaroh dengan telunjuknya. Pendapat ini dihubunkan para ulam dari kalanagn Malikiyah, Syafi’iyah,dan sebagian ulama Hanabilah.
Dalil mereka adalah perkataan sahabat ‘Imaroh yang membenci sahabat Bisr ibnu Marwan mengankat tangan, dan mereka menggap bahwa itu adalah kesalah sehingga mengap ini bid’ah,(musaddidah) mereka terllau berlebihan ,(musaddidah) dalam mengambil hujjah .
Pendapat yang ketiga, adalah mubah (boleh) pendapat ini di hubungkan dengan para ulam dari kalangan Malikiyah dan sebagian ulama Hanabilah.
Dalil mereka adalah bahwa berdo’a dengan mengankat tangan sering dilakukan Rasulullah bukan hanya waktu khutbah dan istisqo saja.sehingga mereka mengambil umumnya peristiwa itu sebagai dalil boleh(mubah mutalq) dalam masalah ini.
Sebagai kesimpulan dari khutbah ini adalh hendaknya kita bias menlai dengan bijak setelah membaca pendapat para ulama ahli ijtihad. Makruh, bid’ah, mubah adalah yang mereka tetapkan. Kalau kita melihat ust khutbah dan mengangkat tangan ya jangan gerah apalagi marah lebih buruk dari itu kalau kemudian ust-nya dipecat gara-gara mengangkat tangan. Naudzubillah. Wahai orang-orang yang kelewatan kepinteran bertobtlah untuk menjadi hamba, jangan jadi hakim seperti allah Karena kalian hanyalah manusia yang lemah, jahil dang ga ada apa2 di bandingkan ulama zaman dahulu.
Kalau anda sedang belajar jadilah santri yang bijak, kalau anda sudah jadi guru jadilah guru yang pandai memberikan solusi, demikianlah seharusnya kita dalam masalah agama.
di tulis dari berbagai sumber dari maktabah syamilah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 April 2011 in Fiqih

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: