RSS

Tafsir Al-Fatihah 2

07 Jun

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Ibnu Kasir berkata :”kata maaliki Bisa dibaca Maliki(raja), bisa pula Maaliki (pemilik , Yang Memiliki). Dibaca Maaliki sesuai dengan makna yang terkandung dalam ayat:
إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الأرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ مريم: 40 وقال: { قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ الناس: 1،
Sedangkan dibaca maliki sesuai dengan ayat:
لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ } [غافر: 16] وقال: { قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ } [الأنعام: 73] وقال: { الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا } [الفرقان: 26]
Addin artinya “pembalasan dan hisab”, sebagaimana dimaksudkan dalam ayat:
أئنا لمدينون apakah sesungguhnya kita benara-benar akan di bangkitkan untuk diberi pembalasan? Qs.37:53.
Ibnu kasir menjelskan ayat ini di hubungkan dengan kata “ad-din” karena pada hari itu yang akan di pertanyakan adalah masalah agama, alas an yang lain bahwa tidak ada yang bias berbicara kecuali di panggil allah untuk menjelasak masalah agamannya.
Hakikat “raja,pemilik, dan penguasa” hanyalah Allah saja tidak ada yang lain, demikianlah yang di utarakn par aula salaf dan kholaf.
Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda:
الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت” أي حاسب نفسه لنفسه؛ كما
“Orang yang paling pandai ialah orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya sendiri dan beramal untuk bekal sesudah mati.”
قال عمر رضي الله عنه: “حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوا أنفسكم قبل أن توزنوا، وتأهبوا للعرض الأكبر على من لا تخفى عليه أعمالكم: { يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
Umar r.a. berkata:”Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab, dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang dan bersiap-siaplah (berbekallah) untuk menghadapi peradilan yang paling besar dihadapan Tuhan yang tidak samar bagi-Nya semua amal perbutan kalian sebagaimana yang dinyatakan dalam FirmanNya :”pada hari itu kalian dihadapkan kepada Tuhan kalian), Tiada sesuatu pun dari kalian yang tesembunyi bagi-Nya,(QS. Al-Haqqah:18).”

Tafsir
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Ibadah berarti mentaati dengan perasaan rendah diri, menagbdi, hamba yang patuh dengan tunduk. Sedangkan menurut istilah syara’, ibadah merupakan suatu sikap yang menghimpun rasa kecintaan, ketundukan dan takut.
Dalam kalimat ini didahulukan maf’ul-Nya, yakni Iyyaka dan diulang untuk menunjukkan makna perhatian dan pembatasan, sehingga bermakna:”kami tidak menyembah kecuali hanya kepadaMu, tidak berserah diri kecuali kepada-Mu”.
Pengertian ini merupakan kesempurnaan dari ketaatan. Sikap beragama secara keseluruhan berpangkal dari makna kedua kalimat ini, sehingga ulama-ulama dulu mengatakan, bahwa rahasia al-Qur’an ada di dalam surat al-Fatihah dan rahasia surat al_fatiahah ada dalam kedua kalimat ini. Sebab, kalimat yang pertama menunjukkan makna bebas dari syirik, sementara yang kedua bebas dari daya dan kekuatan serta menyerah bulat-bulat kepada Allah.
Pengertian yang sama juga terdapat dalam ayat:
وهذا المعنى في غير آية من القرآن، كما قال تعالى: { فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ } [هود: 123] { قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا } [الملك: 29] { رَبَّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا } [المزمل: 9]، وكذلك هذه الآية الكريمة: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } .
Adh-Dhahaak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ialah:”engkaulah yang kami esakan. Hanya kepada Engkaulah kami takut dan berharap, wahai Tuhan kami, bukan kepada selain Engkau”, sedangkan makna ialah:”Dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan untuk taat kepada-Mu dalam semua urusan kami”.
Imam Qotadah (seorang tabiin) beliu mengatakan bahwa maksud ayat ini ialah:”Allah memerintahakan kepada kalian untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan benar-benar memohon pertolongan kepada-Nya dalam semua urusan kalian”.
Ibadah merupakan suatu kedudukan yang luhur bagi seorang hamba Allah. Dan Allah menyebut Nabi Muhammad dengan panggilan ‘hambanya” di tempat yang paling mulia. Berikut ini penjelasan Ibnu kasir.

Tafsir
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Shirath dapat dibaca dengan shad, sin atau zai, dan tidak berubah arti.
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ : jalan yang lurus, yang jelas dan tidak berliku-liku. Bisa pula berarti mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Atau bisa juga berarti Kitab Allah, sebagaimana riwayat dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“shirathal mustaqim adalah kitabullah”.
Juga bisa berarti islam, sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah untuk hambaNya.
Makna Hidayah dalam ayat ini adalah sebagaimana di jelaskan Ibnu Kasir.
An-Nawas bin Sam’an r.a. mengatakan , bahwa Rasulullah saw. Bersabda:
Allah membuat perumpamaan , yakni sebuah jembatan yang lurus:pada kedua sisinya terdapat pagar tembok yang memiliki pintu-pintu terbuka, tetapi pada pintu-pintu itu ada tirai yang menutupinya. Sementara pada pintu masuk kejembatan itu ada seseorang penyeru yang berkata:”wahai manusia masuklah kalian semua ke jembatan ini dan janagn sampai menyimpang darinya”dan diatas jembatan juga ada penyeru yang setiap kali mau membuka pintu maka penyeru itu berkata:”celakalah kamu, janganlah kamu buka pintu itu, sesungguhnya jika kamu membukanya maka kamu akan masuk kedalamnya.”jembatan itu adalah agama islam, dua pagar itu adalah batasan-batasan (hokum-hukum)Allah, pintu-pintu yang terbuka itu adalah sesuatu yang diharamkan Allah, sedangkan penyeru yang di depan pintu adalah kitabullah, sedang penyeru yang ada di atas jembatan adalh nasehat allah yang berada di dalam kalbu setiap Muslim. HR. Ahmad, Ibnu Abi HAtim, Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan NAsa’i.
Tujuan ayat ini adalah minta taufik dan hidayah agar tetap mengikuti apa yang diridhai Allah. Sebab, barangsiapa mendapatkan taufik dan hidayah untuk mengikuti apa yang diridhai Allah, maka ia termasuk golongan yang mendapat nikmat Allah, yakni dari kalangan para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan barangsiapa mendapatkan taufik dan hidayah seperti itu, maka ia benar-benar seorang muslim yang berpegang kepada kitab Allah dan Sunah Rasul, menjalankan segala perintah dan meninggalkan larangan-Nya.
Jika ditanya:”mengapa seorang mukmin harus minta hidayah, padahal dengan shalat yang dilakukannya berarti ia telah mendapatkan hidayah?”
Jawabannya: seseorang yang membutuhkan hidayah itu pada setiap saat dan dalam segala keadaan agar bisa tetap terbimbing oleh hidayah Allah. Karena itulah Allah menunjukkan jalan supaya minta taufik, hidayah dan bimbingan-Nya. Orang yang bahagia hanyalah orang yang selalu mendapatkan taufik dan hidayah. Sebagaimana firman Allah:
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نزلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزلَ مِنْ قَبْلُ } الآية [النساء: 136]، فقد أمر الذين آمنوا بالإيمان، وليس في ذلك تحصيل الحاصل؛ لأن المراد الثبات والاستمرار والمداومة على الأعمال المعينة على ذلك، والله أعلم.
Dalam ayat ini orang mukmin disuruh beriman, yang maksudnya supaya tetap imannya dan melakukan semua perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya, jangan berhenti di tengah jalan, yakni istiqamah sampai mati.
Tafsir
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Inilah maksud jalan yang lurus itu, yaitu yang dahulu telah ditempuh oleh orang –orang yang mendapat ridha dan nikmat dari Allah. Orang-orang yang dimaksud ialah mereka yang disebutkan firman Allah:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا * ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا } [النساء: 69، 70].
Ibnu Abbas mengatakan, bahwa makna ayat:”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau Anugerahkan nikmat kepada mereka” ialah: ”Jalan orang-orang yang telah diberi nikmat berupa ketaatan beribadah kepada Allah, seperti para malaikat, para nabi, para shadiqin, para syuhada, dan shalihin”.
“bukan jalan mereka yang di murkai “: yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak melaksanakannya;” dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”, karena mereka tidak memiliki ilmu (agama), sehingga mereka bergelimang dengan kesesatan.
Addi bin Hatim ra. Bertanya kepada Nabi saw, Siapakah yang dimurkai Allah itu? Jawab Nabi saw, “ mereka adalah orang-orang Yahudi.” Addi bin Hatim ra bertanya lagi,”Dan siapakah orang-orang yang sesat itu?” Jawab Nabi saw “mereka adalah orang-orang Nasrani.”
Tentang orang-orang Yahudi disebutkan dalam ayat:
مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ } ] (6) [المائدة: 60]
Sehingga diantara mereka ada yang menjadi kera dan babi.
Sedang tentang orang-orang Nasrani disebutkan dalam ayat:
قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيل”] (7) } [المائدة: 77]
Fikh membaca Amin
Dan bagi yang membaca surat al-Fatiahh pada bagian akhirnya disunahkan untuk membaca “Amin”, yang berarti :” Ya Allah kabulkanlah”.
Abu Hurairah ra mengatakan, bahwa Nabi saw. Bersabda, jika imam membaca Amin, maka sambutlah (bacalah) Amin, karena sesungguhnya barangsiapa yang bacaan Amin-nya bersamaan dengan bacaan para malaikat, maka dia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR. Bukhari, Muslim)
Abu Musa meriwayatkan, bahwa Rasulullah ssaw bersabda, jika imam membaca Waladh dhaalin, maka bacalah amin, niscaya Allah memperkenankan do’a kalian.”(HR Muslim)
Penutup dari Ibnu Kasir: surat ini hanya tujuh ayat, mengandung pujian dan syukur kepada Allah dengan menyebut nama Allah dan sifat-sifatNya yang mulia. Kemudian menyebut Hari Kemudian , pembalasan dan tuntutan. Juga menganjurkan kepada manusia supaya meminta kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya , serta lepas bebas dari daya kekuatan diri menuju kepada keikhlasan dalam melakukan ibadah kepada Allah. Kemudian menganjurkan kepada manusia untuk selalu minta hidayah dan bimbingan Allah agar bisa menapaki jalan yang lurus, sehingga bias termasuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang telah mendpat nikmat_nya dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Juga mengandung anjuran supaya berlaku baik, mengerjakan amal saleh, dan jangan sampai tergolong orang-orang yang dimurkai atau tersesat dari jalan Allah.
Barokallahu fi ta’limikum fi al-Diin allahuma anfa’na bimaa ‘alamtana, wa ‘alimna maa yanfauna,birahmatika yaa arhamarrahimin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Juni 2011 in Tafsir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: