RSS

Meneguhkan Iman (2)

01 Jul

Meneguhkan Iman (2)
Sebulan yang lalau kita telah selesai membicarakn lima cara meeguhkan iman diantaranya, Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran, Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah, Carilah ilmu syar’I, Ikut Dzikir dan Perbanyaklah amal shalih. Pagi hari ini kita akan melanjutkan ke item selanjutnya.
6. Lakukan berbagai macam ibadah
Imam Nawawi dalam Riyadhussalihin memberikan judul dalam satu babnya dengan tema “banyaknya jalan kebaikan”. Dalam bab ini beliu meuliskan dan menganjurkan agar kita segera berbuat baik,dan tidak dibenarkan menunda-nunda pekerjaan baik itu. Dengan berbuat baik, beribadah dengan baik akan dapat mempertebal iman kita.
Diantara hadis yang disampaikan oleh Imam Nawawy adalah sebagai berikut.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بادروا بالأعمال فتناً كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمناً ويمسي كافراً أو يمسي مؤمناً ويصبح كافراً، يبيع دينه بعرضٍ من الدنيا رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda:”bersegeralah kalian untuk melakukan amal shaleh, karena akan terjadi bencana yang menyerupai malam yan gelap gulita, yaitu seseorang di waktu pagi dia beriman tetapi pada waktu sore dia kafir, atau pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu paginya ia kafir, dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia. HR. Muslim
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بادروا بالأعمال سبعاً، هل تنتظرون إلا فقراً منسياً، أو غنىً مطغياً، أو مرضاً مفسداً، أو هرماً مفنداً أو موتاً مجهزاً أو الدجال فشر غائبٍ ينتظر، أو الساعة فالساعة أدهى وأمر ! رواه الترمذي وقال: حديثٌ حسنٌ.
Dari abu hurairah berkata, sesungguhnyanRasulullah bersabda:”bersegerah melakukan amal shaleh sebelum datangnya tujuh perkara. Apakah kamu mennati masa kemiskinan yang melupakan, kekayaan yang dpat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapar mengakhiri segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal, padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau menuggu datangnya hari kiamat, padahal kiamat itu sesuatu yang amat berat dan menakutkan. HR. Tirmidzi Hasan
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya (cinta dunia) serta Tahajjud menambah kekuatan. Dalam kitab fadhilah qiyamullail di jelaskan:”bahwa mediasi komunikasi yang diklakukan seorang hamba dengan robnya yang paliang utama adalah pada saat tahajud.
Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)
Bahwa banyak melakukan ragam amal shalih yang diperintahkan akan menyebabkan iman kita menjadi terjaga kontiunitasnya, begitu sebaliknya apa bila kita tidak melakukan banyak amal shalih niscaya iman kita mla-mula akan ternodai, kotor, dan akhirnya akan tertutup. Kalau sudah tertutup maka dia tidak akan sanggu melihat bahwa amalan ii adalah baik buat dirinya.
7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
Khalid bin Abdurrahman Asy-Syayi dan Sulthan bin Fahd Ar-Rasyi dalam kitabnya “Masyahidul Ihtidhar fi Qur’an wa sunnah” beliu menjelaskan tentang factor-faktor penyebab su’ul khatimah,:
Pertama , akidah yang tidak murni, sebab kerusakan akidah akibatnya dapat merusak iman dan menghilangkan semua amal kebaikan.
Kedua, mengejar pesona kehidupan dunia dan menggantung diri padanya, rela berbuat maksiat demi dunia. Ibnu kasir dalam tafsirnya menjelaskan yang dimaksud dengan Syu’ul khatimah adlah bahwa dosa-dosa, kemaksiatan serta hawa nafsu itu menguasai pelakunya pada saat kematian di seratai dengan penguasaan syetan terhadap dirinya karena imannya lemah sehingga ia erjerumus dlaam akhir hayat yang tidak baik Allah berfirman:”25:29 dan syetan itu tidak mau menolong manusia.
Ketiga, bahwa orang yang berakhir dengan tidak baik ia akan menolak untuk mengucapkan kalimat tauhid pada akhir hayatnya.
Khusnul khatimah, indikasinya adalah apababila ia selalu mentaati allah, berdoa kepada Allah, sedangkan cirri-ciri khusnul khatimah yang di jelaskan oleh Khalid adlah sebagai berikut:
1. mengucapkan kaliamh syahadat saat meninggal dunia.
2. Kamatian yang disertai dengan keringat kering pada kening, yaitu pada saat meninggalnya ada keringan di keningnya.
3. Meninggal pada malam jumat atau siang harinya.
4. Gugur di medan jihad fi sabilillah.
5. Gugur saat di medan jihad.
6. Mennggal karena penyakit tha’un
7. Mati karena penyakit dalam
8. Mati karena tenggelam.
9. Mati karena tertimpa reruntuhan.
10. Wanita yang mati karena melahirkan.
11. Wanita yang mati karena hamil
12. Mati karena penyakit menular.
13. Mati karena penyakit lumpuh.
14. Mati karena membela harta milik yang hendak dirampas.
15. Mati membela agama.
16. Mati membela keluarga.
17. Meti membela diri.
18. Mati dlam tugab di jalan Allah.
19. Mati karena beramal shaleh.
20. Pujian dan kesaksian baik dari para pelayat muslim yang shaleh.
Demikianlah keteranga tentang “mati” pendapat ini di sarikan oleh Khalid dari kitab “bidayah wa Nihayah” yang ditulisa oleh Ibnu Kasir.”
8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangis mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)
Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)
Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.
9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.

10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”

Wslam
Bekasi, 5 Juni 2011
Ttd
M. Maryono, MA

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2011 in Kuliah subuh

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: