RSS

Orang Munafiq Tafsir Al-Baqarah Ayat 10-12

12 Jul

Tafsir Al-Baqarah (10-12)
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)
As-Saddi mengatakan bahwa yang di maksud dengan “hati mereka ada penyakit” adalah penyakit keraguan, dan penyakit itu semakin bertambah luar biasa ketika datan kepada mereka kebenaran dari Rasullullah.
“Dalam hati mereka ada penyakit”, dimaksudkan adalah penyakit keraguan dan kemunafikan. Penyakit yang sudah mendarah daging dalam jiwa mereka ini. Kemudian Allah menambah penyakit hatinya, yaitu berupa penyakit dengki, dendam dan keras kepala, dengan cara menggembar-gemborkan kalimat Allah, mengatasnamakan agama, atas nama atau demi Rasul dan kaum beriman, bahkan atas nama Allah, atas nama Islam, sementara jiwa mereka penuh dengan kebusukan, kehinaan dan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Semua itu adalah penyakit jiwa.
Dengan kata lain, mereka sedang sakit jiwa, tetapi mengaku paling waras, paling bersih dan paling benar. Sementara kecemburuan, kedengkian dan iri hati benar-benar telah mendarah daging dalam hatinya. Allah memberikan ancaman mereka dengan siksa yang teramat pedih. Siksaan jiwanya sebenarnya telah menggelapi hatinya, siksaan hijab keraguan dan kemunafikan yang menghalangi hubungan jernih antara dirinya dengan Allah.
Karakteristik kemunafikan itu muncul dari elemen-elemen sifatnya, yang kelak menumbuhkan sifat baru, berupa kecenderungan-kecenderungan adu domba, menciptakan kerisauan sosial, demi ambisi pribadi dan kelompoknya. Ambisi itu sebagai penyakit lain yang tumbuh dari elemen kemunafikan tersebut, tujuan utamanya adalah menguasai duniawiyah, atas nama akhirat, atas nama agama dan atas nama Allah.
Tetapi ketika mereka diajak memasuki iman yang hakiki, diajak untuk memasuki jalan Ilahi yang lebih esensial, mereka justru merasakan bahwa ajakan itu sebagai kekeliruan dan bahkan secara main-main mereka menyatakan dirinya sebagai reformis, pembaharu dan pencipta kebajikan. Padahal justru mereka itu menciptakan kerusakan dan kehancuran di muka bumi, hanya saja, karena hijab ruhani yang menutupi jiwa mereka, akhirnya malah mereka tidak memiliki rasa kebajikan itu sendiri. Yang ada adalah rasa kejahatan yang dianggapnya sebagai pendukung yang layak bagi gerakannya.
Sakit di tasirkan dengan keraguan itu juga di dukung oleh beberapa sahabat nabi Ibnu ‘Abbas, hasan Basri Abul ‘Aliyah Qotadah dan Said ibnu Jubair. Semenntara tabiin yang lain seperti Thowus menafsirkan penayakit itu dengan “riya’”
Kenikmatan duniawi, sifat-sifat buruk, predikat kehinaan yang menempel pada diri mereka adalah hijab yang teramat tebal untuk mengingat kehidupan akhirat. Sesuatu yang menyakitkan manakala jiwa mereka diingatkan akan kehidupan hakiki di akhirat, apalagi diingatkan akan hakikat Ilahi. Siapa pun yang memiliki karakteristik seperti itu akan sulit menerima kebaikan Allah, karena kebaikan itu tidak akan tumbuh dalam jiwa yang sakit.
Selanjutnya Zaid bin aslam menjelaskah bahwa penyakit itu adalh penyakit dalam agama bukan penyakit badan penyakit itu adalah “Nifaq”
Ibnu Kasir menjelaskan bahw keraguan mereka itu adalh keraguan tentang islam, iman, dan kebenaran yang ada dalam agama tersebut. Hal ini sama dengan firman Allah Qs. 9:124-125:
     •       •        •    •        
“ Dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.
dan Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakitMaka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam Keadaan kafir.”
Kekafiran mereka dengan kekafiran yang sudah ada, Ibnu kasir menjelaskan قال: شرًا إلى شرهم وضلالة إلى ضلالتهم, keburukan dengan keburukan yang lain, kesesatan dengan kesesatan yang lain.
بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ, sifat mereka di gabungkan antara ragu,sesat, buruk, kejelekan, di ujung ayat ini Allah menegaskan bahwa mereka suka berdusta.
Berdusta dengan memfitnah nabi mereka mengatakan bahwa “rasulullah suka membunuh sahabatnya” kenytaannya tidak demikian rasul melakukan itu karena kekafiran serta kemunafikan mereka, Rasulullah tidak pernah membunuh kecuali sudah ada perintah dari Allah, rasulullah tidak pernah menyerang kecuali sudah di serang begitu seterusnya.
Rasulullah tidak membnuh orang munafsik yang sudah menampakkan keislammnya, hal ini di perkuat dengan hadis Nabi saw.:
الصحيحين وغيرهما: “أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا: لا إله إلا الله، فإذا قالوها عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحقها، وحسابهم على الله، عز وجل”
Aku di perintah untuk membunuh manusia sampai dia mengucapkan kalimah laa ilaha illa Allah”, apabila mereka sudahmengatakan kaliamt itu maka mereka aku jaga harta, darah, harta, dengan hak-haknya, dan hisab mereka kepada Allah azza wa jalla.
Imam Malik menuturkan :Rasulullah tidak membunuh orang munafik untuk menjelaskan pada ummatnya, bahwa seorang hakim tidak boleh menghukum sesuai dengan pengetahuannya sendiri.”
Sementara Imam Syafi’I berpendapat bahwa Rasulullah tidak mebunuh orang munafik, padahal ia mengetahui keberadaan mereka, ialah karena mereka telah menunjukkan apa yang menahan (memelihara) darah dan harta mereka, sebagaimana tersebut dalam hadits shahih: “ aku diperintah menerangi orang-orang hingga mereka mengucapkan:” lal Ilaha Illallah”, jika mereka telah mengucapkannya, berarti mereka telah memlihara darah dan hartamereka dariku, kecuali berdasarkan alas an yang dibenarkan, sedangkan hisab (perhitungan ) mereka terserah kepada Allah Azza wa Jalla.

Tafsir Ayat 11
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11)
Laa tufsidu fil ardhi, menurut Abul Aliyah maksudnya: “ jangan berbuat maksiat di muka bumi. Sebab, kebaikan bumi ini hanya bias tercapai dengan taat kepada Allah, maka setiap perbuatan maksiat atau anjuran untuk berbuat maksiat berarti merusak”.
Ibnu Jarir berkata,”orang munafik dianggap merusak bumi karena maksiat dan pelanggaran mereka terhadap larangan Allah, mengabaikan perintah Nya , serta menentang ajaran agama Allah. Selain itu, mereka juga membantu orang-orang yang mendustakan ajaran Allah dan Rasulnya. Dan orang-orang munafik itu selalu merasa bahwa perbuatan jahat mereka itu sebagai perbuatan baik.”
Innama nahnu muslihuun, maksudnya mereka mengatakan: “ sesungguhnya kami bermaksud memperbaiki (mengkompromikan) antara kedua golongan, yakni golonagn kafir dengan kaum mukmin”. Padahal yang mereka anggap sebagai perbaikan itu justru mencampuradukkan antara keimanan dengan kekufuran, dan itu merupakan pengrusakan . hanya karena kebodohan merekalah, sehingga mereka tidak merasakan hal itu dsebagai kerusakan.
Dalam riwayat yang lain dari As-Sady :
قال السدي في تفسيره، عن أبي مالك وعن أبي صالح، عن ابن عباس، وعن مُرّة الطيب الهمداني، عن ابن مسعود، وعن أناس من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم: { وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ } أما لا تفسدوا في الأرض، قال: الفساد هو الكفر، والعمل بالمعصية.
Imam Mujahid mengatakan:
وقال ابن جُرَيْج، عن مجاهد: { وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ } قال: إذا ركبوا معصية الله، فقيل لهم: لا تفعلوا كذا وكذا، قالوا: إنما نحن على الهدى، مصلحون.
Tafsir Ayat 12
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12
وهذا الذي قاله حسن، فإن من الفساد في الأرض اتخاذ المؤمنين الكافرين أولياء، كما قال تعالى: { وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ } [الأنفال: 73] فقطع الله الموالاة بين المؤمنين والكافرين كما قال: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا } [النساء: 144] ثم قال: { إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا } [النساء: 145] فالمنافق لما كان ظاهره الإيمان اشتبه أمره على المؤمنين، فكأن الفساد من جهة المنافق حاصل؛ لأنه هو الذي غَرّ المؤمنين بقوله الذي لا حقيقة له، ووالى الكافرين على المؤمنين، ولو أنه استمر على حالته (4) الأولى لكان شرّه أخف، ولو أخلص العمل لله وتطابق قوله وعمله لأفلح وأنجح؛ ولهذا قال تعالى: { وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ } أي: نريد أن نداري الفريقين من المؤمنين والكافرين، ونصطلح مع هؤلاء وهؤلاء، كما قال محمد بن إسحاق، عن محمد بن أبي محمد، عن عكرمة أو سعيد بن جبير، عن ابن عباس: { وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ } أي: إنما نريد الإصلاح بين الفريقين من المؤمنين وأهل الكتاب. يقول الله: { أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ } يقول: ألا إن هذا الذي يعتمدونه ويزعمون أنه إصلاح هو عين الفساد، ولكن من جهلهم لا يشعرون بكونه فسادًا.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juli 2011 in Tafsir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: