RSS

Tafsir Surah Al Baqarah 19-20

17 Okt

Sikap Orang Munafik Terhadap Dakwah Rasulullah saw
Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 19-20
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (19) يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Tafsir Ayat 19
Huruf di “au” di pangkal ayat di atas berarti “atau”, berarti ayat ini ada hubungan dengan ayat sebelumnya. Pada pangkal ayat 17 Allah menegaskan dengan perumpamaan orang munafik dan orang kafir mengenai cahaya yang di bawa Rasulullah. Pada ayat ini Allah membuat contoh , amstal tentang orang munafik dan kafir dengan hujan lebat ada kilat dan dalam kegelapan.
Ayat yang mulia diatas mengajarkan kepada kita tentang “perumpamaan” yang harus di renungkan serta di pahami oleh kita. Dalam ayat itu Allah menibaratkan ajaran Islam dengan turunnya al-Qur’an bagaikan air hujan yang turun dari langit, yakni hajat hidup jiwa manusia kepada al-Qur’an sama dengan hajat jasmani manusia kepada hujan.
Sedangkan kegelapan yang meliputi hati (jiwa) manusia ialah kekufuran, keraguan, dan kemunafikan. Di dalam al-Qur’an semua itu di jelaskan kadang diseratai dengan ancaman terhadap orang munafik dan kafir, dan terkadang berupa panggilan supaya cepat bertobat dan kembali kepada tuntunan Allah agar diampuni dan diberi rahmat.
Beginilah kita mansia, adakalanya petunjuk al-Qur’an itu, menerangi hati manusia, sehingga mereka mengikutinya. Tetapi karena kepentingan pribadi manusia itu ragu-ragu dan berbuat kekufuran. Hati mereka menjadi gelap dan terpaksa mereka berhenti mengikuti petunjuk yakni al-Qur’an. Jika mereka melihat kemenagan Islam, mereka merasa tenang dan senang, tetapi sebaliknya jika melihat musibah menimpa ummat Islam mereka bingung antara tetap mengikuti atau melepaskan dari Islam. Perinstiwa dan sikap yang seperti ini sama dengan firman Allah Qs. Al-Hajj, 22; 11:
 ••          •                 
11. dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
Dalam ayat itu ada kata-kata di “tepi” artinya adalah mereka tidak dengan keyakinan yang mendalam dalam melihat,meyakini ajaran Islam itu.
Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud dan kebanyakan sahabat serta tabiin seperti ‘Atho’, Mujahid, dan Sa’id Ibnu Jubair, menyatakan bahwa yang di maksud dengan كَصَيِّبٍ adalah hujan, demikian yang di utarakan Ibnu kasir dalam tafsirnya. Ad-Dhahaq mengitrepretasikan dengan awan tapi tarjih dari pendapat ini adalah hujan yang turun di kegelapan malam.
والبرق: هو ما يلمع في قلوب هؤلاء الضرب من المنافقين في بعض الأحيان.
والصواعق: جمع صاعقة، وهي نار تنزل من السماء وقت الرعد الشديد، وحكى الخليل بن أحمد عن بعضهم صاعقة، وحكى بعضهم صاعقة وصعقة وصاقعة، ونقل عن الحسن البصري أنه: قرأ “من الصواقع حذر الموت.
Kemudian firman Allah يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُم”hamper saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Ibnu ‘Abbas dan sahabat yang lain menafsirkan ayat itu sebagaimana berikut ini:
ثم قال: { يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ } أي: لشدته وقوته في نفسه، وضعف بصائرهم، وعدم ثباتها للإيمان.وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: { يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ } يقول: يكاد مُحْكَمُ القرآن يدل على عورات المنافقين.وقال ابن إسحاق: حدثني محمد بن أبي محمد، عن عكرمة، أو سعيد بن جبير، عن ابن عباس: { يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ } أي لشدة ضوء الحق، { كلما أضاء لهم مشوا فيه وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا } أي كلما ظهر لهم من الإيمان شيء استأنسوا به واتبعوه، وتارة تعْرِض لهم الشكوك أظلمت قلوبَهم فوقفوا حائرين.

Keraguan dan kekufuran merekalah yang menyebabkan semua ini terjadi terhadap orang-orang munafiq ini, mereka ragu dengan ajaran wahyu dari Allah dan bimbang dengan kebenaran Rasulullah, sehingga mereka memiliki kayakinan kalau mengikuti Allah dan RAsululnya mereka akan mati dan binasa.
Adapaun petunjuk al-Qur’an cukup terang dan gambling, sehingga hamper menyambar penglihatan mereka dan hamper mempengaruhi mereka. Karenya, jika terlihat terang benderang mereaka mengikutinya, tetapi jika kembali gelap mereaka bingung, tidak tahu kemana harus pergi dan bagaimana harus berbuat, sebab ia tidak sepenuhnya beriman kepada Allah dan Rasululnya.

Allah memberikan gambaran cahaya yang menerangi orang adalah beragam dan bermacam-macam, dalam banyak ayat al-Qur’an di jelaskan tentang sifat cahaya mansia itu, ada yang cahaya menerangi seluruh bumi ada yang hanya sejengkal dan ada pula cahayanya kadangan terang kadan mati atau redup. Gambaran ini tidak hanya di dunia melainkan pada hari qiyamah juga di jelaskan Allah.
Berukut ini ayat-ayat yang mengambarkan tentang cahaya mereka, Qs.al-Hadid, 57:13 (munafiq):
                           
13. pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
Qs. 57:12 Orang mukmin:
           •            
12. (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (Dikatakan kepada meraka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.

Qs. At-Tahrim:8
       •        •         •                  •     
8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam hadis juga di jelaskan tentang hal yang sama, misalnya hadis berikut ini:

قال سعيد بن أبي عَرُوبة، عن قتادة في قوله تعالى: { يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ } الآية [الحديد: 12]، ذكر لنا أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول: “من المؤمنين من يضيء نوره من المدينة إلى عدن، أو بين صنعاء ودون ذلك، حتى إن من المؤمنين من لا يضيء نوره إلا موضع قدميه”. رواه ابن جري
قال الإمام أحمد: حدثنا أبو النضر، حدثنا أبو معاوية يعني شيبان، عن ليث، عن عمرو بن مرة، عن أبي البختري، عن أبي سعيد، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “القلوب أربعة: قلب أجرد، فيه مثل السراج يُزْهر، وقلب أغلف مربوط على غلافه، وقلب منكوس، وقلب مُصَفَّح، فأما القلب الأجرد فقلب المؤمن، سراجه فيه نوره، وأما القلب الأغلف فقلب الكافر، وأما القلب المنكوس فقلب المنافق الخالص، عرف ثم أنكر، وأما القلب المصفح فقلب فيه إيمان ونفاق، ومَثَل الإيمان فيه كمثل البقلة، يمدها الماء الطيب، ومثل النفاق فيه كمثل القرحة يَمُدّها القيح والدم، فأي المدّتين غلبت على الأخرى غلبت عليه” . وهذا إسناد جيد حسن.
“Hati manusia ada 4 macam:1. Hati yang bersih di dalamnya terang seperti lampu, 2. Hati yang tertutup dan tertutup tutupnya, 3. Hati yang tengkurap, 4.hati yang berlapis-lapis. Adapun hati yang bersih adlah hati orang mukmin, sedang cahaya di dalamnya adalah cahaya imannya. Adapun hati yang tertutup adalah hati orang kafir, hati yang tengkurap adalah hati orang munafik, semula ia mengetahui kemidian mengingkari. Adapun hati yang berlapi-lapis adalah hati yang didalmnya ada iman dan kemunafikan. Perumpamaan didalam hati bagaikan sayuran yang disirami air yang baik, sedangkan perumpamaan nifak adalah seperti luka yang mengeluarkan darah dan nanah. Maka benda yang mana diantara dua benda yang lebih kuat dari pada yang lainya, berarti ia dapat mengalahkannya.”HR. Imam Ahmad dengan sanad yang baik.

Berikut ini kesimpulan yang disampaikan ibnu kasir dalam tafsirnya;
فتلخص من مجموع هذه الآيات الكريمات: أن المؤمنين صنفان: مقربون وأبرار، وأن الكافرين صنفان: دعاة ومقلدون، وأن المنافقين -أيضًا-صنفان: منافق خالص، ومنافق فيه شعبة من نفاق، كما جاء في الصحيحين، عن عبد الله بن عَمْرو، عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ثلاث من كن فيه كان منافقًا خالصًا، ومن كانت فيه واحدة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يَدَعها: من إذا حَدّث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا اؤتمن خان” .

Selanjutnya pangkal dari ayat yang kita bicarakan adalah “jikalau Allah menghendaki….” Ibnu kasir dalam tafsirnya menyatakan bahwa kalau Allha mau Ia sanggup mengambil sertamenghilangakn pendengaran dan penglihatan mereka. Ibnu ‘Abbas menyatakan setelah mereka mengetahui kebenaran dan meninggalknya.

وقوله: { وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ } قال محمد بن إسحاق: حدثني محمد بن أبي محمد عن عِكْرِمة، أو سعيد بن جبير، عن ابن عباس، في قوله تعالى: { وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ } قال: لِمَا تركوا من الحق بعد معرفته.
{ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ } قال ابن عباس أي إنّ الله على كل ما أراد بعباده من نقمة، أو عفو، قدير.
وقال ابن جرير: إنما وصف الله تعالى نفسه بالقدرة على كل شيء في هذا الموضع ؛ لأنه حذر المنافقين بأسه وسطوته وأخبرهم أنه بهم محيط، و أنه] على إذهاب أسماعهم وأبصارهم قدير، ومعنى { قَدِيرٌ } قادر، كما أن معنى { عَلِيمٌ } عالم.

Wassalamu ‘alaikum Wr.Wb

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Oktober 2011 in Tafsir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: