RSS

Tafsir Surah Al Baqarah 23-24

17 Okt

Kebenaran Al-Qur’an
Tafsir al-Baqarah Ayat 23-24

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)

Tafsir ayat 23
Setelah meletakan asas untuk dalil tauhid, bahwa tiada tuhan kecuali Allah, kemudian Allah mengarahkan khitab-Nya (pembicaraan.red)kepada orang-orang kafir untuk percaya kepada kebenaran kitab Allah :”jika kalian ragu terhadap apa yang telah kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad saw), maka cobalah kamu membuat, mengubah, mengarang, mendatangkan sesuatu yang dapat menyamai apa yang dibawa dan diturunkan pada Muhammad walau ahnya sesurat saja. Jika kamu benar- benar mengira bahwa ajaran Muhammad itu bukan dari Allah, maka silakan kamu membuat dan ajak pembantu-pembantumu, jika kamu tidak dapat menyainginya sendirian”.
شُهَدَاءَكُمْ: menurut Ibnu ‘Abbas Artinya pembantumu, skutumu, pemimpinmu atau saksi-saksimu.
Tantangan Allah terhadap orang-orang yang meragukan kebenaran al-Qur’an itu terdapat dalam beberapa surat. Diantaranya dalam surat al-Qashash ayat 49:
قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَى مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ }
“katakanlah :’datangkanlah oleh kalian sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat memberi petunjuk dari pada keduanya(Taurat dan al-Qur’an), niscaya aku mengikutinya, jika kalian sungguh orang-orang yang benar.”
Dalam surat al-Israa’ ayat 88 Allah berfirman:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
”katakanlah :”sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa denagn dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”
Juga dalam surat Yunus ayat37-38:
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya[691], tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.”
“Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.”

Semua ayat diturunkan di Mekkah sebagai tantangan kepada mereka. Kemudian sesudah hijrah ke Madinah Allah kembali menantang mereka dengan tantangan yang sama lewat ayat 23-24 dalam surat al-Baqarah ini.
مِثْلِهِ :Artinya “yang serupa dengan al-Qur’an”. Ada yang mengartikan “yang serupa dengan Muhammad saw.” Sebagai seorang lelaki ummi. Tapi yang lebih tepat ialah “yang serupa dengan al-Qur’an”. Sebab, tantangan itu bersifat umum kepada semua orang arab, baik ummiyin maupun kitabiyin, dan yang lainnya dari kaum musyrik. Sedangkan tantangan itu disampaikan di Mekkah dan Madinah, karena mereka sangat memusuhi Nabi saw dan sangat membenci ajarannya.
Kemudian dalam ayat 24 Allah dengan tegas berfirman وَلَنْ تَفْعَلُوا, maksudnya “kalian tidak akan mampu melakukannya untuk selama-lamanya”.
Kalimat ini menunjukkan mukjizat al_Qur’an yang tegas menyatakan, bahwa mereka takkan dapat membuatnya untuk selamanya, dan terbukti hingga empat belas abad tidak ada yang sanggup membuat suatu karangan yang dapat menyerupai al-Qur’an. Sebab memang tidak mungkin seorang mahluk akan dapat menyaingi Allah yang menciptakannya.
Dan barangsiapa yang memperhatikan al-Qur’an, maka ia akan mendapatkan berbagai contoh keindhan kalimatnya, baik yang terang maupun yang tersembunyi, demikian pula maknanya yang selalu membuka pengetahuan, sebagaimana disebutkan firman-Nya:
Kalimat-kalimatnya disusun dengan rapi, padat berisi, dan maknanya tidak dapat ditiru atau disaingi. Juga memberitakan kejadian-kejadian yang telah lalu secra tepat sesuai dengan kejadiannya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

Dengan demikian semua ajaran al-Qur’an itu hak benar adil, dan merupakan petunjuk, tidak ada kelebihan atau bualan-bualan dusta, sebagaimana yang biasa terdapat dalam sajak, syair, cerita-cerita dan hikayat-hikyat.
Seluruh isi al-Qur’an itu hak dan sangat indah nilai sastranya. Bagi siapapun yang benar-benar mengerti dan memahami baru ia akan merasa, bahwa tiada tuntunan, ajaran, kisah dan berita yang lebih indah susunannya daripada al-Qur’an. Bahkan walau diulang beberpa kali takkan menjemukan. Sebab pada tipa kali ulangan terasa mendapat hikmah dan rasa nikmat dan hangat.
Jika bertemu dengan ayat yang berisi ancaman, maka benar-benar membangkitkan bulu roma. Sebaliknya, ayat yang berisi harapan memiliki daya terik bagi setiap hati dan perasaan yang idup dan menyadarinya.
Contoh ayat al quran yang berisi harapan:
QS Assajdah ayat 17
{ فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [السجدة: 17] ،
QS Azzukhruf :71
وقال: { وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ } [الزخرف: 71]،
QS Al-Mulk:16-17
{ أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ * أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ } [الملك: 16، 17]
QS al Ankabut:40
وقال في الزجر: { فَكُلا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ } [العنكبوت: 40]
QS Asy-Syuaraa:205-207
وقال في الوعظ: { أَفَرَأَيْتَ إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ * ثُمَّ جَاءَهُمْ مَا كَانُوا يُوعَدُونَ * مَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يُمَتَّعُونَ } [الشعراء: 205 -207]
Firman Allah dalam bentuk ancaman:
وقال في الترهيب: { أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ } [الإسراء: 68]، ،

Dan masih banyak lagi ayat yang merupakan puncak dari kefasihan, sastra dan keindahan. Demikian pula jika memuat hokum yang brupa perintah atau larangan, yang meliputi segala kebaikan dan sangat berguna bagi kepentingan manusia, dan melarang segala hal yang keji, rendah dan akan merugikan jasmani serta rohani manusia. Karena itu Ibnu Mas’ud r.a. berkata,” jika anda mendengar firman Allah:”ya ayyuhal ladzina amanu, maka pasanglah telingamu, sbab pasti menyuruh mu pada jalan yang baik atau melarang dari seuatu yang berbahaya bagimu. Allah berfirman dalam surat al-A’raf 157:
يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ } الآية [الأعراف: 157]
“ (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”
Dalam tafsirnya depag dijelaskan tentang belenggu-belenggu itu maksudnya:” dalam syari’at yang dibawa oleh Muhammad itu tidak ada lagi beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Umpamanya: mensyari’atkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan kisas pada pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diat, memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang kena najis.
Jika ayat-ayat itu menggambarkan susnan hari kiamat dengan segala kengeriannya, juga gambaran surga, neraka dan apa-apa yang tersedia dalam keduanya untuk kekasih Allah atau musuh-musuh Allah, yang berupa nikmat atau siksa, maka diungkapkan dalam bentuk berita gembira, larangan, serta peringatan. Yaitu ungkapan yang mendorong untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah dari segala yang mungkar, mendorong untuk waspada terhadap tipuan dunia, dan memperbanyak bekal untuk akhirat yang kekal, membimbing ke jalan agama Allah yang lurus dan syariat islam yang jujur, serta membersihkan hati dari semua kotoran setan yang terkutuk.
Abu hurairah mengatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: “ما من نبي من الأنبياء إلا قد أعْطِيَ من الآيات ما مثله آمن عليه البشر، وإنما كان الذي أوتيته وحيا أوحاه الله إليَّ، فأرجو أن أكون أكثرهم تابعًا يوم القيامة”
“Tiada seorang Nabi pun melankan telah dianugerahkan suatu mukjizat yang disesuaikan denagn apa yang diimani oleh manusia di masanya. Dan sesungguhnya apa yang telah diberiakn kepadaku hanyalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepadaku maka aku berharap semoga aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya di antara semua nabi kelak di hari kiamat”(HR Bukhari-Muslim)”
Maka al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang dibawa oleh nabi saw sedangkan mukjizat-mukjizat lainnya masih banyak sehingga tidak dapat dihitung. Karena mukjizat Nabi Muhammad saw berupa mukjizat yang hidup kekal hingga hari kiamat.
Selanjutnya Ibnu Kasir menyatakan tentag “Waqud”:
وَقُودُهَا ialah “alat untuk memperbesar nyala api “ seperti kayu arang, sebagaimana tersebut dalam firmannya:
QS al-Jin,72:15:
وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا } [الجن: 15]
“Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.”
QS al-Anbiya:98
وقال تعالى: { إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ } [الأنبياء: 98] .
‘Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.”
Walhijaaratu ialah: “batubara untuk menyalakan api, atau batu-batu berhala yang disembah orang-orang kafir”. Sebab, batu bara itu termasuk alat pembakar yang panas.
Penafsran tetang batu ini berkisar di antara batu kibriet dari jahannam atau batu berhakla yang mereka sembah selain Allah waktu di dunia demikian al-Qurtuby dan Al-Razi berpendapat.
Dengan keterangan ayat ini, nyaata bahwa surge dan nerka kini telah ada, sebagaiman diterangkan oleh nabi saw, bahwa telah terjadi debat antara surge dan nerka. Dan hadis lain yang menyebutkan:” nerka minta izin kepada tuhan, ya Tuhanku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya’. Akhirnya ia diizinkan untuk mengeluarkan dua hembusan, yaitu hembusan di waktu dingin dan hembusan lainnya di waktu musim panas.”
Juga riwayat Ibnu Mas’ud ra, yang mengatakan:” ketika kami duduk bersama nabi saw. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh lalu kami bertanya,’ suara apakah itu? Jawab nabi saw, ‘itu suara batu yang dilemparkan ke nerka jahannam sejak tujuh puluh tahun yang lalu, dan baru kini sampai ke dasarnay.(HR Muslim)
Demikian pendapat ulama ahlussunnah sejak masa sahabat hingga kini, yang berbeda pendapat dengan kaum mu’tazilah yang mendasarkan segala sesuatu dalam maslaah agama pada akal dan sukar beriman pada yang gaib dari keterangan rasulullah saw.
Perhatian
Fa’tu bisuuratin min mitslihi: tantangan Allah ini berlaku untuk semua ayat al-Qur’an, baik yang panjang maupun yang pendek. Yakni nyata bahwa tak seorangpun yang dpat mmebuat saingan atas surat yang terpendek seperti al-ashr, al-kautsar, alkaafirun, dan sebagainya. Karena itulah Imam syafii berkata, “andaikan manusia benar-benar memperhatikan kandungan surat al-ashr, pasti cukup bagi mereka.” Yakni, cukkup sebagai pegangan hidup dan pedoman dalam perjuangan , pergaulan, berhubungan antar sesmaa manusia. Cukp unutk dapat mencapai kenahagiaan dunia dan akhirat.
Ketika belum masuk islam Amr bin Al-ash pernah dating kepada Musailamahal-Kadzab, lalu ditanya oleh Musailamah, ‘ apakah yang telah diturunkan kepada temennmu yang di Mekkah (Nabi Muhammadsaw) itu dalam beberapa waktu ini?’ jawab Amr, “ dia telah dituruni satu surat yang singkat dan sangat indah.” Lalu musailamah bertanya,” apakah itu? Jawab Amr, Wal ashri innal insanaana lafi khusrin illalladzina aamanu wa ‘amilus shaalihati watawa shaubilhaqqi watawa shaubishshabri. “Musailamah berkata, “ sya juga dituruni yang serupa itu.” Ditanya oleh AMr, “apakah itu? Jawab Musailamah, “ ya wabr ya wabr innama anta udzunan ni washadr wasaa iruka haqrun faqr. “ lalu musailamah bertanya kepada Amr. “bagaimana pendaptmu?” jawab Amr, “demi Allah, engkau mengetahui bahwa saya mengetahui engkau berdusta.”

Wallahu ‘Alam bi al Showab. wslam

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Oktober 2011 in Tafsir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: