RSS

Nabi Musa dan Kaumnya (al Baqarah 51-54)

02 Mar

Al-Baqoroh ayat 51-54
Nabi Musa dan Kaumnya
                             
Ayat diatas menjelaskan kepada nabi Musa dan kaumnya agar mereka bersyukur kepada Allah, seakan –akan Allah berfirman kepada mereka: “ingatlah nikmat-Ku yang Ku limpahkan bagi kalian. Kumaafkan kalian ketika kalian menyembah anak lembu setelah Musa meninggalkan kalian untuk menepati janji Tuhannya”. Sebagaimana tersebut dalam surah al a’raf 142:
                         
142. dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. dan berkata Musa kepada saudaranya Yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah[564], dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”.
Ada yang mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada bulan dul qo’dah dan 10 dzul hijjah. Sehingga ummat islam pada bulan-bulan itu di perintahkan untuk banyak bersyukur kepada Allah atas nikmat2 yang di berikan Allah kepada kita.
Al-Kitab, Taurat dan al-Furqan ialah keteranagn dan penjelasan yang membedakan antara yang hak dengan yang batil, antara halal dan haram, atau antara hidayah dengan kesesatan. Penjelasan yg sama dengan ayat di atas dalam surah al Qashas :43:
           ••     
43. dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk men- Jadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.
Tafsir 54:
                           
Dalam tafsir DEPAG dijelaskan: orang-orang yang tidak menyembah anak lembu itu membunuh orang yang menyembahnya. Adapula yang mengartikan: orang yang menyembah patung anak lembu itu saling bunuh-membunuh, dan apa pula yang mengartikan: mereka disuruh membunuh diri mereka masing-masing untuk bertaubat.
Al-Hasan al-Bashri mengatakan, bahwa ketika orang-orang yang menyembah anak lembu itu menyadari sesatnya perbuatan mereka, mereka pun berkata,”sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat dan tidak mengampuni kami, pastilah kami jadi orang-orang yang merugi.” Hal ini sebagaimana tersebut dalam surat al-A’raf 149. Maka langsung Nabi Musa as memerintahkan mereka untuk bertobat dan menunjukkan cara tobatnya.
 (yang menjadikan kalian). Dalam ayat ini terkandung isyarat yang menunjukkan, bahwa dosa mereka teramat besar. Dengan ungkapan lain:” bertobatlah kalian kepada Tuhan yang menciptakan kalian, karena kalian telah menyembah selain Dia”.
Ibnu Abbasa ra mengatakan, bahwa Musa menyuruh kaumnya dengan perintah Tuhan supaya membunuh diri. Lalu memerintahkan mereka yang menyembah anak lembu untuk duduk, sedangkan mereka yang menyembah anak lembu berdiri di sampingnya sambil membawa pedang. Lalu tiba-tiba tempat itu menjadi gelap gulita dan terjadilah pembunuhan oleh yang satu terhadap yang lainnya. Ketika gelap telah lenyap dan cuaca kembali terang, ternyata yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu orang. Semua orang yang terbunuh diterima tobatnya, demikian pula semua orang yang masih hidup.
Dalam riwayat yang lain masih dari Ibnu ‘Abbas:
وروى النسائي وابن جرير وابن أبي حاتم، ، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس، قال: قال الله تعالى: إن توبتهم أن يقتل كل واحد منهم كل من لقي من ولد ووالد فيقتله بالسيف، ولا يبالي من قتل في ذلك الموطن. فتاب أولئك الذين كانوا خفي على موسى وهارون ما اطلع الله من ذنوبهم، فاعترفوا بها، وفعلوا ما أمروا به فغفر الله تعالى للقاتل والمقتول. وهذا قطعة من حديث الفُتُون، وسيأتي في تفسير سورة طه بكماله، إن شاء الله .
Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa ketika Musa telah kembali kepada kaumnya dan membakar anak lembu, kemudian menaburkan abunya ke laut, ia keluar bersama sahabat pilihannya untuk munajat kepada Allah, hingga mereka pingsan. Nabi Musa memintakan ampun untuk kaumnya yang telah menyembah anak lembu itu. Allah menjawab,” tidak , kecuali jika mereka membunuh diri mereka sendiri.”ketika disampaikan kepada kaumnya, mereka menjawab,”kami akan teguh menerima perintah Allah.” Lalu Nabi Musa menyuruh orang-orang yang telah menyembah anak lembu supaya duduk, sedangkan yang tidak ikut menyembah disuruh membunuh mereka dengan pedang. Maka kaum wanita dan anak-anak menangis, memintakan maaf untuk mereka, sehingga Alalh memaafkan, lalu Nabi Musa diperintah Allah untuk menghentikan pembunuhan.
As-Saddi mengatakan, bahwa ketika turun perintah,  , orang-orang yang menyembah berhala saling membunuh dengan orang-orang yang tidak menyembahnya, dan mereka yang gugur dari kedua belah pihak dianggap mati syahid. Ketika yang terbunuh ada tujuh puluh ribu orang, Nabi Musa dan Harun berdoa,” Ya Tuhan kami, aku minta maaf kepada-Mu buat yang tersisa. Sisakanlah, sisakanlah.” Allah kemudian memerintahkan mereka meletakkan senjata dan Allah berkenan menerima tobat mereka.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, bahwa ketika Musa telah kembali kepada kaumnya dan ada tujuh puluh yang tinggal bersama Nabi Harun tidak ikut menyembah lembu, maka Nabi Musa berkata,”marilah kalian pergi menepati janji Allah.” Mereka bertnya,”Ya Musa, apakah ada jalan untuk bertobat?” Jawabnya,” Ya, bunuhlah dirimu, itulah yang baik di sisi Tuhan-mu.” Maka mereka menghunus pedang, pisau, parang, dan senjata lainnya. Kemudian Allah menurunkan awan gelap di atas mereka, sehingga mereka hanya bisa meraba-raba dengan tangan dan saling membunuh. Karenanya, saat itu mereka tidak mengetahui siapa yang mereka bunuh, ada yang membunuh ayahnya sendiri, saudaranya, atau kerabatnya yang lain. Di dalam kegelapan mereka berdoa,” semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang sabar melaksanakan perintah Tuhan untuk mencapai ridha-Nya.” Maka orang yang mati dianggap syahid sedang yang masih hidup diterima tobatnya.
Kesimpulan:
1. Kedhaliman seorang hamba akan menyebabkan kebinasaan diri, lingkungan dan Negara.
2. Allah SWT maha pemaaf dan pengampun setiap dosa yang dilakukan oleh hambanya
3. Allah menerima Taubat hambanya selama hamba tu mau mengakui dosa2nya.
4. Pertobatan yang disyariatkan kepada nabi Musa dan kaumnya tidak sama dengan syariat ummat Muhammad saw.
HM.maryono, MA

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Maret 2012 in Tafsir

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: